Ini Alasan AP I Bikin Bandara Atas Air di Semarang

Ini Alasan AP I Bikin Bandara Atas Air di Semarang

- detikFinance
Kamis, 19 Jun 2014 07:00 WIB
Ini Alasan AP I Bikin Bandara Atas Air di Semarang
Foto: Dok AP 1
Jakarta - PT Angkasa Pura I (Persero) telah memulai pembangunan dan perluasan Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. Terminal bandara terbaru baru dibangun di atas rawa alias mengapung di atas air (floating).

Pembangunan bandara berkapasitas 6-7 juta per tahun karena kapasitas bandara saat ini sudah melebihi daya tampung bandara. Apa alasan AP I membangun bandara di atas air pertama di Indonesia itu?

Corporate Secretary AP I, Farid Indra menerangkan pertimbangan pertama adalah masalah lingkungan. Pasalnya bandara tersebut dibangun di atas hutan bakau.

"AP I ingin bangun bandara yang konsepnya tidak merusak lingkungan. Itu konsepnya eco airport," kata Farid kepada detikFinance di Kantor Pusat AP I, Jakarta, Rabu (18/6/2014).

Pertimbangan kedua adalah mempertahankan ekosistem hayati yang ada di terminal baru. Alhasil terminal di bangun di atas tiang pancang mirip dengan tol atas laut Bali sehingga ekosistem di bawah bandara tetap terjaga.

"Kedua manfaatkan pola bangunan berteknologi. Konstruksi bandara bisa gunakan tiang. Kemudian kita ingin pertahankan ekosistem di sana. Bibit ikan biar hidup normal di bawah bandara," sebutnya.

Namun Farid mengakui untuk pembuatan apron atau parkir pesawat, pihak kontraktor harus melakukan penutupan lahan bakau.

"Kalau apron memang harus ditimbun, tetapi kalau terminal nggak ganggu di situ," jelasnya.

Pertimbangan lainnya adalah faktor teknis dan regulasi. Pasalnya di sisi darat, ada fasilitas militer dan jalur kereta double track yang tidak mungkin untuk diuba-hubah posisinya.

"Karena terbatas, di sana ada double track secara teknis sulit. Terus ada peralatan keamanan disitu. Itu daerah basis militer dan terbatas. Akhirnya dicoba di rawa," ujarnya.

Seperti diketahui, AP I akhirnya melanjutkan kembali pembangun bandara berkonsep mengapung dan ramah lingkungan itu. Sebelumnya rencana pembangunan tertunda karena ada perbedaan nilai sewa lahan antara AP I dan pemerintah. Selain itu biaya pengembangan bandara baru tersebut membengkak dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 1,5 triliun karena persoalan kurs.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads