"Indonesia punya utang sekitar US$ 270 miliar, itu nggak ada lindung nilai. Jadi sangat wajar ketika terjadi perubahan nilai tukar, utang Indonesia mendadak dalam waktu 1-2 tahun meningkat tajam," kata Agus dalam rapat koordinasi lindung nilai di kantor pusat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta, Kamis. (19/6/2014).
Sebelumnya, BI mencatat utang luar negeri Indonesia per April 2014 sebesar US$ 276,6 miliar, tumbuh 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah ini terdiri dari utang publik (pemerintah) sebesar US$ 131 miliar dan swasta US$ 145,6 miliar.
Agus menyebut sebetulnya sudah sejak lama hedging dipandang penting. Namun penerapan hedging selalu terhambat.
"Sudah puluhan tahun kita ketahui ada masalah tapi selalu nggak bisa kita tuntaskan. Di tingkat policy, di tingkat tertinggi, itu tidak berusaha untuk menyamakan pandangan. Juga di tingkat detil tidak berkomitmen ikut dan tindak lanjuti solusi yang ada," tegasnya.
Selain mempengaruhi utang, lanjut Agus, pergerakan nilai tukar juga membebani neraca perdagangan. Apalagi saat ini impor Indonesia cukup tinggi, sehingga ketika dolar AS menguat jumlah yang harus dibayar pun meningkat.
"Kondisi perdagangan Indonesia selama beberapa waktu ini lebih besar impor daripada ekspor. Itu nggak terelakkan tekanan terhadap rupiah," ujarnya.
Agus pun berpandangan mengenai penyebab pelemahan rupiah kali ini. Menurutnya, salah satu faktor adalah mulai membaiknya perekonomian di AS.
"Saat ini di dunia, yakni ekonomi Amerika, cenderung membaik. Dana-dana di negara berkembang, termasuk di Indonesia, ada kecenderungan keluar dalam bentuk valuta asing. Akibatnya tekanan pasar valuta asing di Indonesia," paparnya.
(feb/hds)











































