Selama APBN Defisit, Pemerintah Akan Terus Tambah Utang

Selama APBN Defisit, Pemerintah Akan Terus Tambah Utang

- detikFinance
Jumat, 20 Jun 2014 14:46 WIB
Selama APBN Defisit, Pemerintah Akan Terus Tambah Utang
Jakarta - Sampai akhir Mei 2014, utang pemerintah sudah mencapai Rp 2.461,36 triliun. Naik Rp 20 triliun dari bulan sebelumnya. Secara rasio terhadap PDB, utang berada di level 25,1%.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan utang akan terus bertambah selama anggaran masih defisit. Artinya kebutuhan belanja melebihi pendapatan negara.

"Selama anggaran masih defisit pasti tambah utang," ungkap Chatib di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (20/6/2014).

Tahun ini, pemerintah memperkirakan defisit anggaran sebesar Rp 241,5 triliun atau 2,4% PDB. Naik dibandingkan perkiraan sebelumnya yaitu Rp 175,4 triliun (1,69% PDB).

Namun, Chatib menegaskan utang sebaiknya tidak dilihat dari nominalnya melainkan perbandingannya dengan PDB. Sebab, ini mencerminkan kemampuan sebuah negara untuk membayar utangnya.

"Utang itu yang terpenting jangan dilihat dari nominal tapi dari persentase terhadap PDB. Kalau lihat utang dari nominalnya, akan ketemu nominalnya seolah besar atau kecil. Harus dilihat dari kemampuan membayar," tegasnya.

Sebagai informasi, utang pemerintah per Mei 2014 terdiri dari pinjaman Rp 681,21 triliun, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 676,04 triliun. Kemudian berupa surat berharga Rp 1.780,15 triliun, naik dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp 1.764,37 triliun.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga Mei 2014 adalah:



  • Bilateral: Rp 367,1 triliun
  • Multilateral: Rp 271,05 triliun
  • Komersial: Rp 40,36 triliun
  • Supplier: Rp 240 miliar
  • Pinjaman dalam negeri: Rp 2,4 triliun

Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:



  • 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
  • 2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)
  • 2013: Rp 2.371,39 triliun (28,7%)
  • 2014 per Mei: Rp 2.461,36 triliun (25,1%)
(mkl/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads