"Kalau dilihat sejarah 5-10 tahun kenaikan harga sudah menjadi siklus. Harga biasanya naik seminggu sebelum Ramadan karena di dalam budaya Jawa ada budaya munggah dan Sunda ada budaya Nadran. Nah di situlah terjadi peningkatan konsumsi," kata Bayu saat berdiskusi dengan media di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (20/6/2014).
Setelah itu dan masuk pada bulan Ramadan, pola konsumsi mulai berangsur-angsur turun. Lalu biasanya kenaikan harga kembali terjadi 2 minggu sebelum Lebaran. Hal ini karena permintaan sejumlah barang kebutuhan pokok mengalami kenaikan
"Seminggu setelah Ramadan biasanya turun. Masuk 2 minggu sebelum Lebaran itu naik lagi. Hal ini karena untuk mengantisipasi persediaan stok karena toko tutup dan otomatis pemasok berhenti memasok. Jadi mereka agak menyetok," tuturnya.
Ada beberapa kebutuhan pokok yang biasa mengalami kenaikan harga sebelum dan sesudah puasa seperti daging sapi, kue kering, sirup, dan lain-lain. Menurut Bayu setelah momen tersebut selesai, biasanya harga kembali normal.
"Ramadan dan Lebaran punya dinamika sendiri," cetusnya.
(wij/dnl)











































