Kalangan dunia usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI-ICMA) mengakui hal tersebut. Dari Sabang sampai Merauke masih banyak penambang nakal yang tidak mengikuti prosedur pemerintah seperti tidak memiliki izin usaha pertambangan (IUP), pelaporan data produksi, dan ekspor. Mereka pun tidak membayar royalti kepada negara.
"Jadi ada sumber batu bara yang digali secara ilegal, dicuci, dan dijual. Itu penambang nakal yang ada di mana-mana," ungkap Direktur Eksekutif APBI Supriatna Suhala kepada detikFinance, Senin (23/6/2014).
Buktinya, menurut Supriatna, selalu ada selisih dari angka ekspor yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Pada 2012, perbedaannya mencapai 56 juta ton dan 2013 meningkat menjadi 70 juta ton.
"Bila dikalikan dengan harga batu bara, maka berapa royalti yang tidak dibayar? Belum lagi pajaknya. Harusnya ada penerimaan negara di sana," paparnya.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lanjut Supriatna, disebutkan tengah menindaklanjuti masalah penambang nakal tersebut. Dia optimis dalam 1-2 tahun ke depan masalah ini bisa dikurangi. "KPK turun tangan, insya Allah dalam 1-2 tahun bisa," ujarnya.
Untuk pemerintahan baru, Supriatna menilai ada 3 hal yang harus dibereskan. Pertama adalah penegakan hukum terhadap penambang ilegal.
"Harus dicek lagi soal kebenaran izin, jadi mereka bayar royalti dan pajak. Tidak enak-enak saja menambang, harus ditertibkan," sebutnya.
Kedua adalah penguatan sistem manajemen mulai dari perizinan hingga pengawasan. Ini berlaku mulai dari pemerintah pusat sampai daerah. "Regulasinya harus diperbaiki lagi, sampai ke aturan di daerah," ujar Supriatna.
Ketiga adalah penguatan inspektur pertambangan dari sisi jumlah dan kualitas. "Sekarang masih kurang sekali. Jumlah dan kualitasnya harus ditingkatkan," tuturnya.
Dalam debat kandidat tadi malam, Prabowo kembali mengemukakan perihal kebocoran kekayaan negara. Kali ini, mantan Danjen Kopassus tersebut menyebutkan kebocoran itu artinya adalah kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri.
Prabowo mencontohkan di bidang pertambangan. Banyak bahan tambang mentah dari Indonesia yang diekspor ke luar negeri dan didatangkan kembali ke Indonesia dalam bentuk yang sudah diolah. Harganya pun naik berlipat-lipat.
"Itu namanya bocor. Itu yang saya maksud dengan kebocoran," tegas Prabowo dalam debat capres di Hotel Holiday Inn Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/6/2014).
(mkl/hds)











































