Ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Djisman S Simanjuntak berpendapat, kondisi tersebut dikarenakan iklim Investasi Indonesia masih kurang ramah terhadap investor, meskipun memiliki prospek yang sangat menggiurkan.
"FDI ke negara Asia pada 2013 cukup besar, tapi flow ke indonesia relatif kecil. Paling banyak ke Tiongkok dan Singapura," kata Djisman di Menara Thamrin, Jakarta, Selasa (24/6/2014) malam.
Menurut Djisman, ekonomi Indonesia masih terpusat di pulau Jawa. Semakin terbatasnya kapasitas Jawa menampung investasi baru menyebabkan Indonesia sulit mencapai pertumbuhan investasi dengan lebih agresif.
"Dalam hal ruang investasi, FDI 2013 Indonesia masih terpusat di Jawa. Sulit melihat pertumbuhan investasi baru," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, ada alasan kuat mengapa iklim investasi di Indonesia masih kurang bisa menarik minat investor. Padahal Indonesia menawarkan potensi pertumbuhan yang masih sangat besar.
Alasan pertama adalah isu ketenagakerjaan dan pengangguran. "Kita masih punya masalah pengangguran, jarak antara yang kaya dengan yang miskin. Banyak sumber daya manusia yang unskilled (tidak memiliki keterampilan). Yang paling penting dari laporan itu, kita menghadapi masalah ledakan penduduk," paparnya.
Ledakan penduduk ini, lanjut Sofjan, sebenarnya bisa menjadi peluang yang sangat luar biasa bila dikelola dan dipersiapkan dengan baik. Sebaliknya, bila hal ini tidak bisa dimanfaatkan justru akan menjadi beban bagi perekonomian nasional.
"Jumlah masyarakat Indonesia sangat besar, rata-rata berada pada usia 26-27 tahun. Kalau tidak dikelola dengan baik, ini bukannya menjadi bonus demografi tapi justru akan membebani negara karena banyak yang harusnya bisa jadi tenaga kerja potensial, tetapi malah menjadi beban karena tidak memiliki keterampilan. Negara terbebani karena harus membayar gaji tetapi produktivitasnya rendah," jelas Sofjan.
Selain itu, tambah Sofjan, Indonesia juga masih menghadapi masalah rumitnya perizinan dan birokrasi. "Undang-undang saling bertentangan, tumpang tindih. Birokrasi juga membuat sulit," tegasnya.
Di sisi lain, demikian Sofjan, investor juga menyoroti lemahnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Hal itulah yang membuat daya saing Indonesia menjadi rendah.
"Kita juga menghadapi masalah infrastruktur, listrik. Kurangnya infrastruktur membuat logistic cost meningkat. Makanya kita jadi less competitive," tuturnya.
Dengan semua kondisi itu, kata Sofjan, menjadi catatan penting bagi pemerintahan berikutnya. "Apa yang akan terjadi tahun depan jika kita tak melakukan apa-apa? Pendapatan pajak berkurang, subsidi terus naik, ini harus diperbaiki. Kita harus membuat iklim investasi dan birokrasi. Saya harap presiden yang terpilih bisa memperbaiki itu," sebutnya.
(hds/hds)











































