Dari Minyak ke Gas, Untungkah PLN?
Jumat, 24 Des 2004 15:45 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero berencana mengganti sumber pembangkit listrik dari bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Upaya ini dianggap sebagai solusi mengurangi production cost atau biaya produksi yang tinggi, mengingat harga BBM yang akan terus naik. Benarkah rencana investasi ini akan lebih menguntungkan PLN, di satu sisi PLN masih terbelit masalah utang, inefesiensi dan maraknya pencurian listrik?Istilah rugi, agaknya bagi PLN sudah menjadi mahfum. Hingga kini perusahaan yang memonopoli penjualan listrik ini masih terus mengalami kerugian. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kerap menjadi tumpuan kesalahan selalu meruginya PLN. Begitu juga dengan harga minyak yang terus naik, menjadi alasan kerugian bagi PLN. Hal itu karena sebagian besar pembangkit listrik PLN masih menggunakan bahan bakar minyak.Tahun 2003 PLN merugi sekitar Rp 6,63 triliun. Dari pendapatannya sekitar Rp 58,68 triliun (dari penjualan listrik Rp 52 triliun), harus dipotong biaya produksi sekitar Rp 65,31 triliun. Sedangkan tahun 2002, PLN membukukan pendapatan Rp 44 triliun (dari penjualan listrik Rp 39 triliun), tetapi biaya produksinya mencapai Rp 52 triliun. Sehingga perusahaan masih merugi sekitar Rp 6 triliun. Kerugian ini juga terjadi pada dua tahun sebelumnya.Lalu bagaimanakah pada tahun 2004 ini? PLN menargetkan penerimaan sedikitnya Rp 54 triliun tahun 2004. Dengan tarif dasar listrik rata-rata Rp 600 per kWh, tanpa kenaikan, diyakini target penerimaan itu bisa tercapai. Tetapi dengan hitung-hitungan biaya produksi dan angka hilangnya pendapatan akibat pencurian listrik, PLN tetap saja berpotensi merugi.PLN menghadapi masalah jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena badan usaha milik negara ini belum berhasil melakukan substitusi dari pemakaian BBM ke gas. Saat ini masih banyak pembangkit listrik tenaga gas milik PLN yang terpaksa menggunakan BBM.Dengan asumsi tarif dasar listrik tidak naik, PLN butuh Rp 8 triliun untuk bisa kompensasi kenaikan harga BBM. Tetapi, PLN akan mengusahakan pengadaan dana melalui pendanaan internal, seperti efisiensi dengan menekan rasio kerugian sebanyak 2 persen sehingga menghemat Rp 1,6 triliun.Sementara itu, dari proyeksi laba rugi PLN tahun 2005, penjualan diperkirakan mencapai Rp 60,79 triliun dengan harga jual Rp 588,15 per kilowatt kali jam (kWh). Pada tahun itu rasio operasi PLN mencapai 103,02 persen dan tingkat keuntungan (ROR/rate of return) sebesar minus 1,09 persen.Namun, tahun 2006 jika tarif listrik naik 7,12 persen, diproyeksikan penjualan Rp 71,58 triliun dengan harga jual Rp 630 per kWh. Kenaikan tersebut akan memberikan laba sebesar Rp 2,32 triliun.Selanjutnya keuangan PLN akan semakin membaik karena diproyeksi pada tahun 2007 penjualan akan naik menjadi Rp 91,46 triliun dan laba yang diperoleh sebesar Rp 6,42 triliun. Sementara untuk tahun 2008 penjualan naik menjadi Rp 101,97 triliun sehingga laba yang diperoleh sebesar Rp 7,52 triliuSalah satu solusi PLN untuk menekan kerugian adalah niat untuk mengganti BBM dengan BBG. Sangat logis memang jika, melihat dari harga minyak dunia yang terus merangkak naik, dan saat ini harga minyak dunia mencapai US$ 45 per barel. Namun akan kah PLN dapat meraih keuntungan dengan menggunakan gas sebagai bahan bakar pembangkit?Direktur Pembangkit dan Energi Primer PLN, Ali Herman sangat yakin dengan keuntungan yang didapat dengan menggunakan bahan bakar gas. "Kita mentargetkan keuntungan sekitar US$ 180 juta per tahun," kata Ali Herman kepada detikcom di Jakarta. Saat ini, kata Ali Herman, PLN telah melakukan sejumlah kerjasama untuk pembangunan pembangkit listrik antara lain dengan Amerada Hess, perusahaan Australia dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Kerjasama dengan dua perusahaan asing ini bahkan sudah ditandatangani pada 12 Desember 2004 lalu.CNOCC akan membangun sumur pengeboran gas bumi di Pulau Pabelokan bagian barat, Kepulauan Seribu. Perusahaan tambang migas asal Cina itu diminta memasok gas ke PLN. Sementara, Amerada Hess akan memberikan pasokan gas alam sebanyak 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan pembangkit di Gresik Jawa Timur. Lalu bagaimana dengan pelaksanaannya? Ali Herman belum dapat memastikan kapan, pelaksanaannya. "Kita tunggu saja dari mereka. Kalau mereka siap, kita juga tentunya akan siap," katanya.Selain dengan kedua perusahaan asing itu, kata Ali, PLN juga terus melakukan kerjasama untuk pasokan gas dengan perusahaan nasional, PT Medco. Namun, Ali tidak sempat menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan kerjasama tersebut, karena keburu masuk ke dalam mobilnya usai bertemu dengan Menneg BUMN di Kantor Menneg BUMN, Jakarta.
(mar/)











































