Bupati Ini Ibaratkan Impor Pangan Sebagai Monster

Bupati Ini Ibaratkan Impor Pangan Sebagai Monster

- detikFinance
Kamis, 26 Jun 2014 11:50 WIB
Bupati Ini Ibaratkan Impor Pangan Sebagai Monster
Jakarta - Impor pangan dianggap sebagai monster dan menimbulkan beberapa dampak negatif bagi para petani di Indonesia. Banyak masuknya produk pangan impor murah membuat hasil pertanian lokal sulit bersaing.

"Impor pangan itu monster," tegas Bupati Kabupaten Kaur Bengkulu Hermen Malik di acara Bedah Buku Melepas Perangkap Impor Pangan di Gedung Bulog, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/6/2014).

Ia mengibaratkan impor pangan sebagai monster karena merupakan sesuatu yang buruk dan menakutkan khususnya bagi petani-petani di dalam negeri. Para petani harus bersaing dengan produk-produk impor yang harganya lebih murah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nilai tukar petani (NTP) jadi rendah, kurang dari 100. Tidak mungkin bisa membangun pertanian dengan nilai tukar sangat rendah," kata Hermen.

Impor pangan juga menyebabkan bekerja di sektor pertanian tidak lagi menarik bagi masyarakat. Karena keuntungan bekerja di sektor pertanian semakin menipis seiring banjirnya produk impor merangsek ke pasar dalam negeri.

"Kenapa? Karena nggak ada untungnya. Selain itu, dampaknya alih fungsi lahan dan alih kepemilikan lahan, karena dijual oleh petani," paparnya.

Dia juga menyebutkan, impor pangan menyebabkan daya saing produk Indonesia rendah dan sulit bersaing. Juga berakibat pada penurunan kreativitas petani.

Hermen mengatakan, kunci untuk menghambat derasnya impor komoditi ke Indonesia adalah dengan menjunjung tinggi kearifan lokal. Masyarakat harus punya pemikiran untuk mencintai dan membeli produk dalam negeri sendiri.

"Jadi modal kita untuk menghambat impor itu kearifan lokal. India itu tidak terlalu banyak impor karena kearifan lokalnya tinggi," katanya.

Hermen pun merilis sebuah buku yang ditulis dirinya sendiri dengan judul Melepas Perangkap Impor Pangan, dengan Model Pembangunan Kedaulatan Pangan di Kabupaten Kaur, Bengkulu.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads