Blora Center Sinyalir Gula Selundupan Marak di Dumai
Jumat, 24 Des 2004 16:44 WIB
Jakarta - Penyelundupan gula dari Malaysia disinyalir marak terjadi di Dumai. Tak tanggung-tanggung jumlahnya selama tiga bulan terakhir ini mencapai 200 ribu ton dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 220 miliar.Demikian disampaikan Direktur Blora Center M Yusuf Rizal saat jumpa pers untuk mengumumkan laporan masyarakat yang masuk ke kotak pos Blora Center 909 dikantornya, Jl Blora, Jakarta, Jumat (24/12/2004). Menurut Yusuf aksi penyelundupan ini dilakukan dengan cara yang rapi dan melibatkan sejumlah aparat baik dari bea cukai, kepolisian, departemen perdagangan, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) maupun Koperasi Mitra Utama (KMU).Nama-nama yang diduga terlibat dalam sindikasi ini adalah HW, AT, AH, DG, KN, AK, SM. Sedangkan aparat bea cukai yang diduga turut membantu terjadinya penyelundupan adalah SP dan HH dari kantor pusat serta HH dari Kanwil II Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Riau. Berdasarkan laporan masyarakat yang masuk ke kontak pos Blora Center 909 tersebut ternyata aksi penyelundupan ini telah berlangsung sejak lama. Sehingga dengan asumsi bea masuk dan pajak impor Rp 1.100 per kilogram dimana setiap bulannya gula selundupan yang masuk mencapai 70-80 ribu ton maka potensi kebocoran negara selama setahun bisa mencapai Rp 1,056 triliun.Menurut Yusuf, bukti keterlibatan aparat pemerintah seperti aparat bea cukai, Depdag dan kepolisian karena gula selundupan itu masuk lewat pelabuhan rakyat yang letaknya sangat dekat dengan kantor bea cukai, Depdag dan kantor polisi. "Jadi ini memang ironis sekali," katanya.Berdasarkan data intelijen Blora Center, gula tersebut setelah sampai di Dumai kemudian dikirim ke daerah lain seperti Jakarta dan Surabaya dengan modus pengiriman barang antarpulau. Padahal SK Menperindag No 61/MPP/Kep/2/2004 tentang perdagangan gula antarpulau jelas melarang hal tersebut.Dikatakan pula saat ini sekitar 130 ribu ton gula asal India dan Thailand juga siap masuk dari Malaysia yang telah ditimbun di berbagai lokasi seperti Port Klang dan Kuala Linggi, Malaka.
(san/)











































