Ini Kata Wamendag Soal 4 Mafia yang Muncul di Debat Cawapres

Ini Kata Wamendag Soal 4 Mafia yang Muncul di Debat Cawapres

- detikFinance
Selasa, 01 Jul 2014 07:30 WIB
Ini Kata Wamendag Soal 4 Mafia yang Muncul di Debat Cawapres
Jakarta - Dalam debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) Minggu malam (29/06/2014), Cawapres nomor urut 2 Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan keberadaan praktik mafia, terutama di sektor ekonomi. Mafia itu adalah mafia minyak, mafia bibit (benih), sapi, dan gula. Apa komentar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi?

Menurut Bayu, segala tindakan nakal di sektor ekonomi termasuk praktik mafia tidak dibenarkan.

"Perilaku manipulatif dan eksploitatif dalam kegiatan perdagangan harus dihilangkan," tegas Bayu kepada detikFinance, Selasa (01/07/2014).

Bayu mengakui, keempat sektor yaitu minyak, gula, bibit, serta sapi adalah yang paling strategis di sektor ekonomi. Apalagi Indonesia belum mampu sepenuhnya memproduksi secara mandiri keempat sektor ini sehingga masih bergantung impor.

"Iya masing-masing memiliki arti strategisnya masing-masing," imbuhnya.

Untuk menekan praktik mafia, menurut Bayu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu dengan kebijakan yang tepat, rumusan regulasi yang jelas, serta pelaksanaan dan pelaksana aturan yang tegas.

"Dan pemerintah terus berusaha menyempurnakan perangkat yang ada agar mencapai ketiga hal tersebut," jelasnya.

Sebelumnya, pada debat semalam, Cawapres JK melontarkan pertanyaan soal ungkapan Capres Prabowo Subianto soal kebocoran pendapatan negara Rp 1.000 triliun atau Rp 3 triliun per hari.

"Dari mana kebocoran tersebut? Apakah kebocoran tersebut dikarenakan masih adanya mafia minyak, mafia daging sapi, mafia bibit (benih), atau mafia gula, yang tercermin di penanganan KPK dan Kejaksaan? bagaimana anda (Hatta) menyelesaikannya jika diberi amanat?" tanya JK kepada Hatta dalam sesi debat Cawapres Hatta dan JK.

Menanggapi hal tersebut, Hatta Rajasa menegaskan, apa yang dimaksud dengan kebocoran tersebut, bukanlah berasal dari APBN, karena tidak mungkin APBN yang jumlahnya Rp 1.800 triliun, kebocorannya Rp 1.000 triliun.

"Yang dimaksud Capres Prabowo Subianto, kebocoran tersebut adalah potential lost yang bisa terjadi dalam perekonomian kita. Saya beri contoh, misalkan apabila kita hanya pandai menjual bahan mentah saja, maka kita tidak mendapatkan value added sama sekali, atau kita tidak menjaga SDA kita dengan baik sehingga dicuri, atau misalkan kita menjual gas atau batu bara yang harga marketnya terlalu murah, dan kita tidak bisa melakukan renegosiasi, maka ini adalah potential lost," jelas Hatta yang juga mantan Menko Perekonomian ini.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads