Akar dari keberadaan mafia pangan hingga minyak karena ketidakseimbangan antara supply dan demand, maka selagi itu terjadi maka potensi mafia sangat besar.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur mengatakan mafia muncul ketika praktik impor terjadi. Menurutnya mafia adalah importir yang mengambil keuntungan yang tidak masuk akal.
"Sampai sekarang masih ada. Sepanjang komoditi kita tidak seimbang supply dan demand. Itu masih merupakan suatu kesempatan bagi mafia. Sepanjang supply dan demand itu pasti mafia tetap ada," kata Natsir kepada detikFinance, Selasa (1/7/2014).
Ia mencontohkan, fenomena harga daging sapi yang tak kunjung turun adalah karena ulah mafia yang mengambil keuntungan yang tak sedikit. Bahkan di luar batas kewajaran.
"Sama seperti kartel. Kartel ini kan sudah mendunia ini. Cara kerja mereka itu terlebih dahulu mengijoni membayar sumber-sumber pangan itu, di tempat yang bersangkutan. Baru masuk ke Indonesia. Masuk ke Indonesia harganya sudah diatur," jelas Natsir.
Natsir mengatakan, hal ini kebanyakan terjadi pada komoditas pangan yang kerap diimpor dan menjadi kebutuhan utama masyarakat. "Kedelai, jagung, daging, tidak seimbang antara produksi dengan demand, minyak," katanya.
Dihubungi terpisah, Direktur Utama Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan, praktik mafia memang ada, namun tidak kasat mata dan cenderung tidak terjamah. Menurutnya, belum ada yang bisa membuktikan siapa mafia-mafia itu sebenarnya.
"Untuk mengatakan ada buktinya itu sulit. Tapi itu ada," kata Ismed.
Ismed tidak secara gamblang mengatakan mengatakan siapa mafia tersebut, namun menurutnya, mafia cenderung merusak harga komoditi khususnya pangan di pasaran.
"Daging sapi di Australia itu Rp 23 ribu per kg. Kenapa di Indonesia itu jadi Rp 100 ribu. Siapa yang menikmati itu. Wallahualam kalau itu mafia atau bukan," terang Ismed.
(zul/hen)











































