Kabar Dibatalkan Tuntutan Cemex Cemaskan Pemegang Saham
Senin, 27 Des 2004 01:57 WIB
Surabaya -
Kabar dibatalkannya tuntutan Cemex S.A de C.V ke Abitrase Internasional menjadi perhatian tersendiri pemegang saham independent. Kabar yang berhembus kencang tapi konon tidak banyak diketahui Menteri BUMN selaku ketua tim perundingan antara pemerintah dan Cemex itu memunculkan banyak kekhawatiran.Kabar pencabutan mengkhawatirkan karena sampai hari ini pemerintah sendiri tidak transparan tentang opsi apa saja yang diberikan kepada Cemex. "Kalau Cemex setuju mencabut abitrase, kan seharusnya pemerintah langsung mengumumkan opsi itu, kalau tidak, ada apa?" kata Luthfi Subagio.Pernyataan juru bicara pemegang saham independent ini menanggapi pernyataan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie yang menyatakan abitrase dicabut oleh Cemex karena mereka setuju dengan opsi pemerintah.Melalui rilis yang diterima detikcom, Minggu (26/12/2004), Lutfhi mengatakan jangan-jangan masih saja ada upaya Ical maupun pemerintah untuk melakukan trik-trik seperti zaman orde baru. "Kami tidak mengharapkan apa-apa, yang kami harapkan adalah transparansi dan jangan sampai merugikan kami dan juga Pemerintah Indonesia."Lalu ditambahkannya, "Kami juga berharap agar Menko Perekonomian bertindak professional sebagai pejabat Pemerintah Republik Indonesia, bukan pengusaha yang telah lama berteman dengan Cemex dan memberikan banyak kemudahan tanpa alasan kepada Cemex."Menurut Lutfhi, kita jangan beranggapan bila Cemex satu-satunya investor yang datang ke Semen Gresik dan bila dia kecewa, Indonesia akan terimbas. Sebab Cemex adalah bagian kecil dari investor yang datang ke SG tiap hari dan siap menanamkan modalnya kapan saja bila dibutuhkan.Luthfi kemudian menunjukkan ada bebrapa kejanggalan yang bisa dirasakan "Kasus ini seluruhnya diserahkan kepada Menteri BUMN sebagai juru bicara satu pintu, kok tiba-tiba Ical ngomong dan Pak Sugiharto (menteri BUMN) tidak tahu, ini kan aneh," lanjutnya. Keanehan yang dilakukan Ical ini kelanjutan penyataan sebelumnya yang mengatakan agar Pabrik Tuban IV diberikan kepada Cemex, padahal pabrik itu bukan milik Semen Gresik.Pemegang saham independent saat ini dalam posisi hati-hati untuk menerima semua opsi yang diberikan kepada Cemex. Selain itu pihaknya juga mengatakan jangan sampai ada perpecahan dan tidak satu pendapat menghadapi Cemex. "Kabinet ini kerjanya berat, karena harus menjaga janji-janji SBY, jangan sampai satu kabinet pecah hanya gara-gara Cemex, masih banyak yangharus diperjuangkan," katanya lagi.Menurut Lutfhi, seharusnya pemerintah justru terus maju dalam abitrase internasional karena kemungkinan untuk menang sangat besar, apalagi manajemen Cemex, dua orang komisarisdan dua orang direksi ikut dalam manajemen SG Grup. "Itu berarti mereka ikut menjalankan manajemen pabrik. Masak mau menyalahkan diri sendiri." Tambahnya.Menurut Luthfi, Cemex mungkin tahu kalau posisi mereka lemah dan buru-buru mengoreksi, daripada tidak dapat apa-apa nantinya. "Jangan belum apa-apa sudah menyerah, wong kita juga belum dengan tuntutan Cemex diluar jalur abitrase kok."Beberapa orang pemegang saham independent dan seorang pengacara saat ini sedang mengumpulkan bukti dan melakukan analisa atas keputusan pemerintah tahun 1998 yang berakibat lemahnya posisi pemerintah saat ini."Tidak lama lagi kami akan bawa berkas-berkas pengaduan kami tentang CSPA (conditional sales and purchase agreement- perjanjian jual beli bersyarat) 17 September 1998 yang cacat hukum itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tunggu saja. Aktornya harus bertanggungjawab." tegasnya.
(gtp/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































