"Kita jelas resah dan takut pendapatan kita terus anjlok," kata salah satu pedagang daging sapi di Pasar Tradisional Sungai Bambu, Jakarta Utara, bernama Ujang kepada detikFinance, Kamis (3/07/2014).
Kekhawatiran Ujang bukan tanpa sebab, karena beberapa tahun terakhir pasar daging sapi cukup sepi. Alasannya adalah karena harga daging sapi terbilang tinggi saat ini. Kini diperparah dengan adanya kabar maraknya daging celeng selundupan jelang Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sehari, Ujang mampu menjual daging sapi setidaknya 50-60 kg daging kepada pelanggannya di Pasar Sungai Bambu Jakarta Utara dengan catatan harga daging dikisaran Rp 85.000/kg. Dengan adanya isu daging celeng plus mahalnya harga daging jelas akan mengurangi minat masyarakat untuk membeli daging sapi dan lebih memilih beralih ke daging ayam atau ikan.
Dijelaskan Ujang, harga bobot sapi hidup per kg di tingkat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) saat ini Rp 35.000-38.000 sedangkan harga karkas (daging plus tulang) Rp 75.000-78.000. Sehingga didapat harga daging di tingkat pasar tradisional Rp 100.000/kg.
"Sekarang hanya mampu menjual 25 kg sampai 40 kg per hari. Omzet menurun drastis. Apalagi ada isu daging celeng ini dan katanya masuk ke pasar. Iya tentu omzet kita akan terus tergerus ditengah mahalnya harga daging sapi di tingkat Rumah Pemotongan Hewan (RPH)," jelasnya.
(wij/hen)











































