Tanah Abang, Jantungnya Pasar Pakaian dan Tekstil di Indonesia

Tanah Abang, Jantungnya Pasar Pakaian dan Tekstil di Indonesia

- detikFinance
Jumat, 04 Jul 2014 10:50 WIB
Jakarta - Mendengar nama Pasar Tanah Abang tentu membawa pikiran langsung pada sebuah tempat dengan segudang koleksi pakaian dan tekstil dengan harga yang miring.

Berbagai koleksi pakaian, dari mulai busana muslim, pakaian olahraga, setelan resmi untuk acara-acara formal, atau sekedar kaos oblong dan pakaian dalam tersedia lengkap dengan berbagai pilihan kualitas, model maupun harga.

Pamor tersebut sudah tersohor hingga seluruh Indonesia bahkan ke negara tetangga. Hal itu pula yang membuat pelaku usaha di bidang Fashion menggantungkan kelangsungan usahanya di Pasar Tanah Abang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanah Abang bukan hanya sebagai pusat penjualan untuk masyarakat ibu kota, tetapi juga bagi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

"Tanah Abang itu bukan hanya milik warga Jakarta, tapi sudah menjadi milik seluruh Indonesia. Baju-baju di daerah itu, banyak yang dikirim dari tanah abang. Bisa dibilang, Tanah Abang itu jantungnya Fashion Indonesia," ujar Iwan, seorang pemasok pakaian dari Tanah Abang ke berbagai daerah ini kepada detikFinance, Kamis (3/7/2014).

Iwan mengatakan sejumlah kota di Indonesia menjadi pelanggan rutin produk-produk fashion yang ada di Tanah Abang.

"Solo, Jogja, Bima, Padang dan lain-lain, itu sudah jadi langganan kita. Pusat-pusat pakaian di daerah-daerah itu dari Tanah Abang yang pasok. Jadi bisa dibilang Tanah Abang itu Jantungnya Fashion Indonesia," katanya.

Ia menuturkan puncak terjadinya pesanan produk Fashion dari para pelanggan yang biasa menggunakan jasa pengirimannya terjadi pada 3 bulan menjelang Ramadhan.

"Biasanya mereka kan stok untuk persiapan Lebaran. Jadi 3 bulan itu sudah mulai pesan, nah pas minggu-minggu awal Ramadhan itu kiriman harus sudah mulai diantar," ujarnya.

Dengan fakta tersebut, dirinya berharap agar penyediaan infrastruktur seperti jalan menjadi perhatian dari pemerintah. Karena, dengan adanya infrastruktur yang memadai maka proses pengiriman barang dapat dilakukan lebih efisien.

"Kalau jalannya bagus, pengiriman jadi lancar. Orang-orang di daerah yang beli di Tanah Abang pun senang, roda ekonomi juga jadi jalan," tutur Iwan.

Tanah Abang tak hanya menawarkan produk-produk pakaian yang dijajakan oleh para pedagang. Di pasar ini juga ada denyut nadi aktivitas para porter yang mengais rezeki di Pasar grosir terbesar di Indonesia ini. Sebagai pasar yang berkonsep grosiran, para pembeli di pasar ini membeli dalam jumlah banyak, sehingga butuh jasa pembawa barang.

Puluhan lelaki berkaus biru dan hijau bertuliskan porter di punggungnya ini menggantungkan hidupnya dari para pengunjung yang menggunakan jasa untuk mengangkut barang, misalnya Ridwan adalah salah satu dari porter tersebut.

Ridwan mengungkapkan, setiap hari, ada saja pengunjung yang menggunakan jasanya baik pengunjung atau pemilik toko. Untuk setiap jasa pengangkutan yang dilakukannya Ridwan mengenakan tarif Rp 5.000 hingga Rp 10.000 sesuai jumlah dan beban barang yang dibawa.

"Setiap hari ada aja yang pakai jasa kita untuk angkut barang. Sekali angkut biasanya kita hargai Rp 5.000 - Rp 10.000 tergantung beratnya," ujar Ridwan sembari mengusap keringat.

Ramadhan dan Lebaran, lanjut Ridwan, menjadi momentum sendiri bagi dirinya dan teman-teman seprofesinya untuk mendulang rupiah lebih banyak dari hari biasanya.

Bila di hari biasa Ridwan hanya mampu mengantongi penghasilan sekitar Rp 100.000 per hari, selama Ramadhan dirinya bisa mengantongi hingga Rp 200.000 dalam sehari.

"Kalau Ramadhan itu, selain yang pakai jasa makin banyak, yang kasih lebihan (kelebihan upah) juga banyak. Jadi kalau Ramadhan kita bisa lebih banyak. Lebih capek, tapi lumayan," tuturnya.

Ridwan menyebut, dari penghasilan yang berhasil dikantonginya tersebut, disisihkannya sebagian untuk setoran kepada mandor, sewa kos dan kehidupan sehari-hari. "Seminggu sekali kita setor Rp 10.000 Sisanya, untuk bayar kos dan biaya hidup," katanya.

Ridwan mengaku telah bekerja cukup lama menjadi Porter, dirinya pun telah mengenal banyak pemilik toko di Tanah Abang. Namun demikian, bukan berarti dirinya bisa bebas melenggang di pasar tersebut.

Ada aturan yang harus dipatuhi oleh dirinya dan teman-teman seprofesi sebagai porter. Aturan itu adalah tidak diperkenankan menggunakan eskalator atau tangga berjalan dan elevator atau lift umum.

"Kalau melanggar aturan untuk naik eskalator, bisa dipukul sekuriti. Jadi kita cuma boleh pakai tangga darurat dan lift barang," katanya.

(hen/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads