Piala Dunia 2014 Termahal Dalam Sejarah, Setara 10 Bulan Produksi Sawit Sumatera

Piala Dunia 2014 Termahal Dalam Sejarah, Setara 10 Bulan Produksi Sawit Sumatera

- detikFinance
Jumat, 11 Jul 2014 10:22 WIB
Piala Dunia 2014 Termahal Dalam Sejarah, Setara 10 Bulan Produksi Sawit Sumatera
Jakarta - Biaya penyelenggaraan World Cup 2014 adalah yang termahal dalam sejarah Piala Dunia. Biayanya mencapai US$ 14 miliar atau setara dengan Rp 168 triliun.

Hal ini disampaikan Marketing Manager Lamudi, Christiana Joan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/7/2014)

Berdasarkan riset yang dilakukan Lamudi, angka tersebut hampir sama dengan penghasilan dari 10 bulan produksi minyak sawit di seluruh pulau Sumatera. Padahal, menurut biro statistik Indexmundi, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, dan berkontribusi sebesar 50 persen dari total produksi internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biaya yang sangat besar itu, menurut Christiana, sempat memicu aksi demonstrasi dan protes dari dalam dan luar negeri Brasil, atas tersedotnya uang rakyat demi kepentingan perhelatan Piala Dunia.

Ongkos yang sangat mahal ini berlawanan dengan kondisi kesenjangan ekonomi di Brasil yang cukup tinggi. Selain itu, biaya hidup yang tiba-tiba naik, tapi juga karena pajak ikut-ikutan naik, dan membebani masyarakat kecil di 12 kota penyelenggara pertandingan.

"Perbedaan kekayaan yang dimiliki antara penduduk miskin dan penduduk kaya biasanya diukur menggunakan ‘skala ketidaksetaraan’ yang membandingkan antara 10 persen orang yang paling kaya dengan 10 persen orang yang paling miskin di suatu negara," katanya.

Christiana mengutip data Bank Dunia, skala ketidaksetaraan di Brasil mencapai 40,6, Ini artinya kesenjangan ekonomi di Brasil lebih tinggi daripada di Indonesia yang mendapat angka 34 dan Denmark yang mendapat angka 24.

"Belum lagi laporan dari PBB menyebutkan bahwa indeks pembangunan sumber daya manusia di negara penghasil kopi tersebut masih sangat rendah, yaitu di posisi 85," katanya.

Lamudi merupakan portal properti global untuk pasar di negara-negara berkembang. Layanan ini sudah ada di 28 negara meliputi Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika, dengan 400.000 listing properti yang berasal dari berbagai jaringan global.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads