Persoalan yang terlihat saat ini, contoh saja tingginya subsidi BBM dan listrik yang mencapai Rp 300 triliun. Serta tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang pergerakannya cukup 'liar'.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowarojo menyatakan, sejumlah risiko yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini adalah:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Risiko global dari normalisasi kebijakan moneter dari bank sentral AS, yaitu The Fed
- Risiko membesarnya defisit transaksi berjalan
- Risiko peningkatan inflasi
- Risiko fiskal terkait upaya penghematan APBN
- Risiko peningkatan utang luar negeri swasta
Terkait risiko global, The Fed direncanakan bakal menaikkan suku bunga acuannya mulai tahun depan. Ini bisa memicu pembalikan modal asing di negara berkembang termasuk Indonesia, dan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Negara maju suku bunganya meningkat dan akan mempengaruhi negara berkembang yang fundamental ekonominya rendah. Negara yang inflasinya tinggi dan transaksi berjalannya defisit akan menghadapi bahaya, terutama yang mengandalkan dana asing," kata Agus dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media di BI Learning Center, Jakarta, Rabu (16/7/2014).
Dari data BI, negara yang paling rentan terkena dampak kebijakan AS ini adalah Turki, Venezuela dan Argentina. Namun Indonesia juga masuk sebagai negara yang rentan terhadpa situasi ini.
Ada sekitar 22 negara berkembang di dunia, dari daftar tersebut, Filipina menempati posisi nomor satu, yang berarti ekonominya paling tahan terhadap guncangan ekonomi global. Sementara Indonesia menempati posisi 12, posisi ini turun dari sebelumnya nomor 10.
Pertumbuhan ekonomi Filipina pada kuartal I-2014 mencapai 5,7%, sementara Indonesia 5,2%. Inflasi di Filipina juga lebih rendah dari Indonesia, yaitu 4,1% (yoy) pada Juni 2014, sementara Indonesia 6,7%. Menarik lagi membandingkan primary balance, yang memperlihatkan kemampuan sebuah negara membayar utangnya. Bila primary balance-nya minus, maka negara tersebut harus membayar utangnya dengan berutang, alias gali lubang tutup lubang.
Indonesia mempunyai primary balance minus 1%, sementara Filipina positif 0,5%.
"Filipina sekarang jadi bintang, dia di peringkat paling atas, karena transaksi berjalannya juga kuat. Lalu tenaga kerja yang dikirim berskill sehingga membawa dolar banyak, dan berikan pendapatan yang baik bagi Filipina," ujar Agus Marto.
BI dalam datanya, memperlihatkan defisit transaksi berjalan (current account deficit) Indonesia mencapai minus 2,1% dari PDB. Smeentara Filipina positif 2,8% dari PDB. Bila hasilnya minus, ini memperlihatkan tingginya aktivitas impor dibandingkan ekspor. Itu yang terjadi di Indonesia, dan kondisi ini yang membuat nilai tukar sering melemah, karena kebutuhan dolar AS yang tinggi untuk aktivitas impor.
"Dalam 11 kuartal transaksi berjalan kita terus defisit dan tambah besar," imbuh Agus.
Lalu terkait risiko peningkatan inflasi, yang bisa menggerus daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga pangan dan juga rencana kenaikan harga BBM yang harus dilakukan demi kesehatan fiskal, bisa meningkatkan inflasi. Ini yang harus bisa dijaga pemerintah.
Inflasi menurut BI memang bisa mencapai target 4,5% saat ini. "Tapi kalau tarif listrik dan elpiji disesuaikan (dinaikkan), maka 2014 ini inflasi bisa 5,31%. Sebenarnya masih selaras dengan target pemerintah 4,5% plus minus 1%. Namun belum lagi ditambah penyesuaian harga BBM, el nino, serta nilai tukar yang melemah. Jadi inflasi naik kalau hal itu tidak dikendalikan," papat Agus.
Terkait fiskal, BI menilai ada risiko perlambatan ekonomi karnea turunnya konsumsi domestik, akibat kebijakan suku bunga tinggi. Dari target pertumbuhan 5,1-5,5%, BI memperkirakan akan realisasi tahun ini bakal berada di 5,1-5,3%.
Kemudian juga ada risiko fiskal dari turunnya produksi minyak yang tidak sesuai harapan. Ini membuat pendapatan dari migas bisa berkurang dan impor makin besar, di tengah melemahnya nilai tukar. Ada kabar, pemerintah bakal berutang membayar subsidi BBM sekitar Rp 30 triliun kepada Pertamina hingga 2015. Ini untuk menjaga kecukupan anggaran. Penghematan anggaran yang rencananya bakal dilakukan, tampaknya tidak maksimal
"Impor migas masih terus dan tidak selesai. Kenaikan harga BBM subsidi tengah ditunggu apakah Oktober atau sebelum Oktober. Jangan sampai Indonesia dihukum masyarakat internasional karena tidak hati-hati mengelola fiskalnya," jelas Agus Marto.
Agus Marto sempat menyinggung soal kondisi industri Indonesia yang tidak banyak berubah. Ekspor barang mentah atau sumber daya alam (SDA) masih jadi andalan. Padahal negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah berani memproduksi barang sendiri, sehingga nilai tambah industri besar.
Ekonomi Indonesia saat ini mengalami defisit, baik fiskal atau anggaran, dan juga di sisi transaksi berjalan. Ini karena pasokan barang banyak dipenuhi oleh impor. Untuk defisit anggarna, bila APBN-P 2014 terpakai penuh Rp 1.895 triliun, maka defisit bisa mencapai 2,8%. Namun Agus mengingatkan, bila produksi minyak terus turun, defisit bisa mencapai 3% bahkan lebih, dan ini tidak boleh terjadi karena melanggar batas dalam undang-undang.
Kemudian, yang terakhir terkait risiko utang luar negeri. Saat ini BI sudah bisa mengetahui kondisi utang luar negeri swasta, tidak seperti pada 1997 lalu. Menurut data BI, dari 100 perusahaan yang mempunyai utang luar negeri, ada 88 perusahaan yang tak melakukan aksi lindung nilai (hedging).
"Dari 88 perusahaan, sebanyak 22 perusahaan punya bisnis ekspor dan sisanya tidak, atau hanya mengandalkan pendapatan rupiah. Ini area yang perlu diwaspadai. Padahal dalam hukum keuangan, kita harusnya meminjam dalam mata uang yang cenderung melemah dan investasi di mata uang yang cenderung menguat," tutur Agus Marto.
BI meminta BUMN yang memiliki utang luar negeri untuk melakukan hedging, agar risiko bisa ditekan bila rupiah melemah.
Menurut Agus Marto, rupiah mudah sekali tertekan terhadap dolar karena perputaran dolar AS di dalam negeri sangat rendah. Bayangkan saja, di Singapura, tiap hari ada perputaran dolar AS sebanyak US$ 300 miliar, sementara Indonesia hanya US$ 300 juta hingga US$ 500 juta. Padahal Pertamina butuh hingga US$ 350 juta untuk impor BBM setiap harinya.
"Kondisi ini yang menyebabkan nilai tukar bisa swing ke atas. BI memang selalu berada di pasar untuk menjaga nilai tukar, tapi BI tidak bisa melawan pasar dunia," kata Agus Marto.
Keringnya perputaran dolar AS di Indonesia karena belum dalamnya pasar keuangan, seperti dana jangka panjang di sektor asuransi, ataupun dana pensiun yang seringkali melakukan transaksi dolar AS di pasar keuangan.
Meski begitu, ada data menarik soal dana asing yang masuk ke sektor keuangan Indonesia. Sepanjang Januari-Juli 2014, dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 144 triliun, ke dalam surat berharga negara (SBN) Rp 84,3 triliun, sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp 6,5 triliun, dan juga saham Rp 54 triliun.
Namun dana-dana asing ini rentan keluar dari Indonesia, bila ada ketidakstabilan ekonomi. Bila keluar, maka nilai tukar rupiah bisa guncang. Dana asing yang masuk selama 7 bulan ini jauh lebih tinggi dari total di 2013 sebesar Rp 35,98 triliun. Euforia pemilu dan munculnya nama-nama capres favorit investor juga jadi pemicu masuknya dana asing ini.
Dalam 7 bulan ini, BI mencatat, rupiah menjadi mata uang yang penguatannya paling tinggi terhadap dolar AS dibandingkan mata uang lain. Penguatan rupiah mencapai 4,11% dalam 7 bulan di 2014.
(dnl/ang)











































