Seorang pemburu asal Lampung yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, berdasarkan pengalamannya pasokan celeng banyak berasal dari daerah Manna di Bengkulu. Di daerah ini banyak perkebunan kelapa sawit, dan jumlah celengnya sangat banyak.
"Celengnya berbeda dengan celeng yang biasanya. Badannya lebih besar, warna putih bertotol hitam," kata pemburu tersebut, Kamis (17/7/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, seorang penjual senjata berburu di Lampung, yang juga tak mau disebutkan namanya mengatakan daging celeng bukan berasal dari Lampung, tapi dari Bengkulu.
"Bahkan pemburunya juga bukan dari Sumatera, melainkan dari Pulau Jawa," kata penjual senjata tersebut.
Kepala Sub Humas Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Arief Cahyono pernah mengatakan wilayah Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung sebagai pemasok utama daging celeng ilegal ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta. Daging celeng ini berasal dari berbagai aktivitas seperti perburuan, pemberantas hama di perkebunan sawit dan lainnya.
Arief mengatakan memang tak ada data pasti soal sumber-sumber daging celeng ini. Namun menurut data yang ia ketahui dari rekannya yang melakukan penelitian soal daging celeng, konsumsi daging ini sudah hal biasa bagi kelompok masyarakat tertentu di Sumatera.
"Setahu saya memang menjadi hama sehingga diburu, ada juga tradisi adu bagong maka ditangkap lah babi hutan. Sehingga bisa jadi dikumpulkan oleh pengepul," kata Arief.
(hen/ang)











































