Dalam sebuah buku keluaran 1970, Chatib bercerita ada seseorang yang memesan semangkuk sup di sebuah restoran. Sup datang diantar pelayan, namun tak disangka di sup itu ada lalat.
Chatib mengatakan, pembeli sup itu adalah layaknya masyarakat yang mengadu, sedangkan pelayan adalah pemerintah atau petugas pelayanan publik.
"Maka customer punya 3 opsi. Pertama dia keluar, dia menganggap restoran tidak bisa menyediakan layanan yang baik, dia tidak percaya. Kedua, dia panggil pelayannya lalu bilang ada lalat atau flash. Ketiga, dia makan sup dengan lalatnya," papar Chatib di acara pencanangan Hari Pelayanan Publik di Jakarta, Jumat (18/7/2014).
Chatib berpesan agar potensi masyarakat memilih opsi nomor satu harus benar-benar dihindari. Caranya adalah dengan meningkatkan layanan publik ke masyarakat.
"Bapak-ibu bayangkan jika pengguna jasa, pelayanan jasanya tidak baik, itu bubar karena tak ada lagi kepercayaan. Yang kita inginkan adalah flash, itu esensi di mana sistem demokrasi sangat penting," tambah Chatib.
Untuk memulai reformasi birokrasi atau meningkatkan layanan publik adalah dengan mengakui adanya persoalan. Menurut Chatib, semakin banyak ada persoalan, semakin besar peluang untuk melakukan perbaikan pelayanan.
"Ketika tidak ada ruang untuk perbaikan, maka kita selesai," tambah mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini.
Chatib mengatakan, reformasi dimulai dengan cara yang sangat sederhana.
"Jika ditelepon oleh pengguna jasa tolong diangkat. Jika dikirim surat, email, tolong dibalas. Reformasi bisa dimulai dengan respons," tegasnya.
(zul/hds)










































