"Jadi 98% masyarakat kita sudah tahu soal KB. Tetapi memang mereka belum melakukannya," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal kepada detikFinance, Jumat (18/07/2014).
Ada beberapa alasan mengapa program KB belum optimal dilakukan masyarakat Indonesia. Salah satunya, karena masalah biaya, lalu ketidakcocokan dengan jenis alat kontrasepsi yang bersangkutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu masalah lainnya adalah berkurangnya jumlah tenaga Penyuluh Lapangan KB (PL-KB). Saat ini jumlah PL-KB hanya 24.000 orang saja, sedangkan kebutuhan mencapai 35.000 orang. Masih ada kekurangan 11.000 orang.
"Dia sudah mau KB tetapi tidak tersedia tenaga terlatih. Kalau bidan dan dokternya tidak bisa memasang alat KB maka tidak akan bisa. Lalu kita butuh tenaga ahli konseling yang intens di bidang KB, tetapi tidak ada orang kita. SDM (Sumber Daya Manusia)-nya sudah amburadul. Dulu 1 PL-KB melayani 2 desa, sekarang 5 desa dengan mobilitas yang tidak seperti dulu lagi. Jadi kalau mereka tidak yakin, maka mereka tidak yakin pakai," jelasnya.
(wij/dnl)











































