Menurut seorang pemburu asal Lampung yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan melalui sindikat pengepul di Jakarta, masyarakat di kawasan tersebut diiming-imingi sejumlah uang yaitu Rp 400.000 per ekor.
Hal ini lah yang memicu perburuan celeng tak hanya dilakukan oleh pemburu dengan senapan api. Namun juga perburuan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara tradisional seperti jala atau jaring.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pengakuan sang pemburu, berbeda dengan di wilayah Bengkulu, perburuan celeng di Lampung lebih banyak karena hobi dan memberantas hama. Ia mengakui ada hasil buruan yang sebagian dibawa pulang, namun ada juga yang ditinggal atau dibuang.
"Kalau di Lampung, kebiasaan mereka setelah berburu celeng, sebagian daging dibawa terutama bagian paha hanya untuk dimakan. Sisa buruan dimusnahkan atau dibuang ke jurang. Tidak diperjualbelikan," tegas pemburu tersebut.
Di Jabodetabek, peredaran daging celeng yang dicoba diselundupkan dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa angkanya cukup besar. Total daging celeng yang dimusnahkan hingga pertengahan Juli 2014 sejak Januari-Juli 2014 mencapai 43,7 ton (43.700 kg) atau naik 240% dibandingkan sepanjang tahun lalu yang hanya 12,8 ton.
Heboh daging celeng di Jabodetabek tak hanya soal upaya penyelundupan, namun produk-produk tersebut sudah masuk pasar tradisional. Misalnya temuan kementerian perdagangan yang membuktikan temuan daging celeng di Pasar Anyar, Tangerang, Banten setelah proses uji laboratorium.
(hen/hds)











































