Sofjan yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini mengatakan sentimen positif terhadap rupiah hanya sentimen positif sesaat. Permasalahan utama secara fundamental belum selesai dan harus dituntaskan oleh Jokowi yaitu defisit transaksi berjalan atau current account deficit, termasuk defisit perdagangan, yang bisa memicu rupiah berbalik arah.
"Ini menguat karena hasil election, tapi masalah trade deficit masih ada. Ini hanya sentimen awal sesaat, masih ada permasalahan trade deficit," kata Sofjan kepada detikFinance, Rabu (23/7/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi rupiah menguat karena kepastian soal hasil pemilu," katanya.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya memperkirakan pada Juni 2014 akan terjadi defisit neraca perdagangan US$ 300 juta. Penyebabnya adalah lonjakan impor yang melebihi ekspor pada periode tersebut.
"Defisit neraca dagang Juni US$ 300 juta," ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo pekan lalu.
(hen/hds)











































