Mendag Lutfi: Politisi Ada yang Profesional dan Teknokrat

Mendag Lutfi: Politisi Ada yang Profesional dan Teknokrat

- detikFinance
Rabu, 23 Jul 2014 20:12 WIB
Mendag Lutfi: Politisi Ada yang Profesional dan Teknokrat
Jakarta - Sejumlah pihak mengharapkan presiden baru nanti untuk bisa memilih menteri ekonomi dari kalangan profesional, termasuk posisi menteri perdagangan. Apa kata Mendag Muhammad Lutfi?

Menurut Lutfi, tidak masalah bila jabatan menteri perdagangan nantinya dipegang oleh kalangan politisi.

"Pokoknya begini, politisi itu ada yang profesional dan teknokrat. Pokoknya begini ini zaman transparansi zaman, daripada semua tidak ada yang tidak bisa dipimpin," ungkap Lutfi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdaganga, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (22/07/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lutfi, yang penting syaratnya adalah. menteri tersebut harus mempunyai kemampuan memimpin sebagai menteri perdagangan. "Jadi mesti bukan hanya profesional tetapi bisa menjadi komunikator yang baik, adil, bijaksana, dan keharusan untuk pintar," imbuhnya.

Ketika ditanya apakah Lutfi berminat kembali menjadi menteri perdagangan bila kembali ditunjuk pemerintah mendatang, Lutfi masih menimbang. Salah satu sebabnya adalah karena masalah keluarga.

"Jangan, jangan. Saya bilang, saya ini kemarin waktu 6 atau 7 Februari kemarin dipanggil Pak Presiden. Saya ini sudah tidak diajak ngomong sama bos saya. Sama Ibu Bianca (Istri Lutfi) 3 hari 3 malam nangis nih kasihan dong saya, nanti dimarahin lagi. Nanti saya urusan sama istri dulu deh," keluhnya.

Di tempat terpisah, pengamat dari Economic Inteeligent Sunarsip mengatakan, apabila kabinet mendatang diisi oleh kalangan profesional dikhawatirkan hanya akan menjadi teknokrat semata.

"Profesional apapun backgroundnya, ia harus mengerti politik. Karena ketika ia sudah menjadi menteri, mau tidak mau ya harus berpolitik, jangan jadi teknokrat semata" ujar Sunarsip.

Menurut Sunarsip, kalangan profesional yang terpilih menjadi menteri nanti harus berani melakukan perubahan.

"Kalau pemerintah berani mengubah paradigma politik anggarannya, pemerintah memiliki potensi untuk membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi," ucap Sunarsip.

Sementara Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan, dosen Fakultas Ekonomi UI menyatakan dirinya tidak mempersoalkan apabila menteri dari kalangan profesional atau politikus.

"Tidak perlu dikotomi (pengelompokan) seperti ini, saya lebih cenderung menilai kompetensinya. Kalau orang itu berkompeten ya kenapa tidak," ujar Faisal Basri.

Menurut Faisal, orang yang mampu dan berani mengubah pola institusi ekonomi Indonesia dari ekstraktif institusi menjadi inklusif institusi patut dipertimbangkan.

"Institusi ekonomi kita saat ini masih ekstraktif atau dikuasi oleh elite yang dengan mudah merampok kekayaan negara, harus ada yang berani menghapus itu entah dari kalangan profesional atau politikus nantinya" tegas Faisal.

Sudarjono, pengamat ekonomi yang tergabung dalam Dewan Ikatan Akuntansi Indonesia menyatakan, apabila kabinet diisi oleh orang-orang dari kalangan politikus dikhawatirkan akan memiliki kepentingan pribadi.

"Jadi pilih mana profesional atau politikus. Itu tergantung tujuannya. Mau ngurus bangsa atau mau ngurus sumber dana partai?" tegas Sudarjono.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads