Starbucks dan Burger King Hapus Menu yang Diduga Berisi Daging Busuk

Starbucks dan Burger King Hapus Menu yang Diduga Berisi Daging Busuk

- detikFinance
Kamis, 24 Jul 2014 10:32 WIB
Starbucks dan Burger King Hapus Menu yang Diduga Berisi Daging Busuk
Foto: Reuters
Jakarta - Pemerintah Shanghai pada telah menutup pabrik OSI Group, pemasok daging untuk McDonald's dan KFC di Tiongkok. Dua waralaba restoran Amerika Serikat (AS) itu langsung berhenti menggunakan produk-produk dari OSI. Operator restoran, Yum, mengatakan bahwa KFC dan Pizza Hut juga tidak lagi menggunakan produk dari OSI untuk sementara.

Sementara itu, Starbucks juga tidak menyangkal bahwa produk olahan ayamnya berasal dari OSI. Namun, Starbucks telah menghapus menu tersebut di 12 provinsi dan di Tiongkok. Pelanggan OSI lainnya, Burger King, juga telah membuang daging dari OSI dari semua restorannya.

Dalam editorial, koran China's Global Times menyalahkan McDonald's dan Yum karena gagal memonitor pemasoknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Merk internasional yang terkenal tidak berdedikasi terhadap konsumennya," ujar koran yang terkenal nasionalis tersebut. "Mereka sepertinya percaya bahwa pasar Tiongkok adalah tempat yang kasar sehingga servis yang tidak baik pun sudah mencukupi," lanjutnya seperti dikutip AFP, Kamis (24/7/2014).

Kantor berita Xinhua menyalahkan OSI dan waralaba makanan cepat saji asing karena memiliki standar ganda dalam keamanan makanan.

"Daging yang sudah kadaluarsa diberikan pada pasar Tiongkok sehingga menimbulkan pertanyaan tentang adanya standar ganda dalam pemasok atau dalam konglomerasi makanan cepat saji," ujarnya.

Tiongkok telah beberapa kali mendapatkan masalah keamanan makanan dan produk karena kurangnya regulasi dan pengurangan kualitas dari produsen.

Insiden paling buruk terjadi pada 2008. Saat itu, bahan kimia melamin ditemukan di produk-produk susu. Kejadian tersebut menewaskan enam bayi dan membuat 300 ribu orang sakit.

Susu bubuk impor dan barang impor lainnya mengalami peningkatakan penjualan di Tiongkok karena konsumen percaya produk impor lebih aman. Namun, beberapa tahun belakangan Tiongkok memprotes perusahaan asing di beberapa sektor, seperti obat-obatan dan makanan bayi, karena harga yang dijual terlalu mahal.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads