Managing Director and Senior Economist Eric Alexander Sugandi mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate hingga 175 basis poin (bps) membuat laju investasi di Indonesia tertekan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi pun perlu disesuaikan hingga di angka 5,3%.
"Merevisi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,3% dari perkiraan awal 5,8%. Tahun depan pun demikian, hanya menjadi 5,5% dari tadinya 5,8%. Laju pertumbuhan investasi melambat salah satunya akibat kenaikan BI Rate hingga 175 bps, walaupun saat ini masih ditahan di angka 7,5%," jelas Eric saat ditemui di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (23/7/2014) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eric menjelaskan, revisi pertumbuhan ekonomi juga merujuk pada kinerja ekspor Indonesia yang belum menunjukkan perbaikan signifikan. "Investor wait and see soal politik dan pelemahan rupiah bikin biaya raw material tinggi. Kinerja ekspor masih belum bagus, government spending tidak besar," katanya.
Pemerintah, kata Eric, didorong untuk bisa mencari tambahan anggaran untuk bisa mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Salah satunya dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Pemerintah harusnya mau menaikkan harga BBM, tahun ini bukan lagi isu anggaran tapi alokasi untuk sektor produktif. Anggaran untuk subsidi BBM dialihkan untuk sektor produktif," tegasnya.
(drk/hds)











































