Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GAPPI) Anton Supit mengatakan di Tiongkok jumlah pemilik waralaba restoran cepat saji jumlahnya ribuan. Sehingga sangat memungkinkan terjadi penyimpangan prosedur standar (SOP) dan lemahnya kontrol kualitas (QC) di setiap gerai-gerai restoran cepat saji.
Anton mengatakan, di Indonesia jumlah restoran cepat saji lebih sedikit dan relatif lebih mudah dikontrol. Selain itu, perusahaan restoran cepat saji menerapkan SOP yang ketat dalam menentukan mitra pemasok daging seperti daging ayam untuk restoran cepat saji ayam goreng dan sejenisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan biasanya restoran cepat saji menentukan pemasok langsung dari Rumah Potong Hewan (RPH) yang sudah diuji. Prosesnya akan dilakukan audit mulai dari pemotongan, higienis, kehalalan, dan rantai dingin yang terjaga.
"RPH-RPH akan diaudit oleh perusahaan seperti McD, KFC. Mereka kalau mau beli, kita akan diaudit. Jadi tak sembarang orang, mereka beli dari selalu dari tangan pertama," katanya.
Seperti diketahui pemerintah kota Shanghai baru saja menutup pabrik penyedia daging olahan OSI Group karena menjual daging busuk kepada beberapa restoran waralaba terkenal dari negeri Paman Sam.
Daftar klien OSI Group yang selama ini menggunakan daging bermasalah tersebut di antaranya McDonald's, KFC, Burger King, Papa John's Pizza, Starbucks dan Subway.
(hen/hds)











































