Pasca Gempa dan Gelombang Tsunami
Terganggukah Perekonomian Asia?
Kamis, 30 Des 2004 11:49 WIB
Jakarta - Pasca gempa dan gelombang Tsunami dahsyat yang melanda sebagian kawasan Asia, sejumlah lembaga internasional dan ekonom dunia mulai mempertanyakan, bagaimana kondisi perekonomian Asia selanjutnya. Akankan pertumbuhannya terganggu?Dana Moneter Internasional (IMF) misalnya, mengaku saat ini belum bisa memprediksikan apakah perekonomian Asia akan terpengaruh akibat bencana maha dahsyat ini. Salah seorang pejabat IMF seperti dilansir Reuters mengaku saat ini masih terlalu dini untuk mengatahui apakah bencana itu akan mempengaruhi perekonomian global secara keseluruhan. Ia menilai, saat ini tidak mungkin untuk memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana tersebut, namun yang jelas kerugian setiap negara sangatlah besar.Gempa yang menimbulkan gelombang Tsunami pada Minggu (26/12/2004) lalu memang telah menelan korban dari Asia hingga Afrika. Sejumlah negara yang telah melaporkan korban tewas akibat bencana ini adalah Indonesia, Thailand, India, Myanmar, Sri Lanka, Somalia, Kenya, Tanzania, Bangladesh dan Malaysia. Bank Dunia sendiri sebelumnya melansir pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur pada tahun 2004 ini bisa mencapai 7 persen yang merupakan laju yang cukup tinggi pasca krisis.Sehari setelah peristiwa yang mengerikan itu, mata uang Asia langsung melemah. Sementara lantai bursa juga langsung melemah akibat anjloknya saham-saham sektor yang berhubungan dengan pariwisata terutama penerbangan. Namun sehari setelah itu, mata uang dan saham kembali normal. Analis dari BNI Fendi Susiyanto memperkirakan, dampak bencana alam terhadap lantai bursa diperkirakan tidak ada karena bencana ini jauh dari pusat perekonomian. "Pelaku pasar di Indonesia melihat bencana tersebut jauh dari pusat bisnis, sementara sebagian lagi masih yakin akan adanya window dressing sampai akhir tahun. Hal ini yang membuat indeks di BEJ tidak jatuh karena bencana Tsunami," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu. Sementara lembaga pemeringkat internasional seperti Standard & Poor's (S&P) juga telah menegaskan rating negara-negara yang terkena dampak Tsunami Aceh tidak akan terpengaruh. Saat ini S&P memberi rating B+ untuk Indonesia, BB untuk India, BBB+ untuk Thailand. "Pengaruhnya pada ekonomi Asia Timur dan Tenggara akan dapat dielakkan dengan rekonstruksi yang cepat pada daerah yang terkena bencana," ujar Phing Chew, salah satu direktur S&P dalam pernyataannya seperti dilansir Reuters.Sejumlah negara yang menderita akibat gempa berkekuatan 9 skala richter seperti Thailand dll juga masih menghitung-hitung berapa kerugian yang dideritanya. Namun diperkirakan perekonomiannya akan cepat pulih. "Seperti halnya Bali yang bisa survive setelah peristiwa bom pada tahun 2002, maka Phuket di Thailand juga akan bisa survive dari bencana ini," ujar Chew.Yang jelas diperkirakan perekonomian Indonesia ke depan akan cukup 'terguncang' akibat bencana ini. Pemerintah harus menyisihkan dana yang cukup besar untuk merehabilitasi kawasan yang porak poranda ini. "Kalau dilihat, bencana seperti gempa bumi, Tsunami merupakan bencana umum yang sangat besar. Secara jangka menengah, hal tersebut bisa mengganggu perekonomian karena rusaknya infrastruktur untuk kegiatan ekonomi," ujar Fendi.Khusus untuk Indonesia, diperkirakan pemerintah cukup kesulitan untuk mendapatkan dana merehabilitasi Aceh dan Sumut yang diperkirakan mencapai Rp 1o triliun. Padahal pemerintah sendiri pada tahun 2005 diperkirakan masih akan mengalami defisit hingga 1 persen dari PDB atau sekitar Rp 25 triliun. Menko Perekonomian Aburizal Bakrie sendiri mengaku belum tahu dana sebesar itu akan diperoleh dari mana saja. Namun ia meyakinkan sudah banyak pihak swasta yang bersedia membantu rehabilitasi itu. Semoga..
(qom/)











































