Ini Penyebab Kelangkaan Air Galon Sering Terulang Pasca Lebaran

Ini Penyebab Kelangkaan Air Galon Sering Terulang Pasca Lebaran

- detikFinance
Jumat, 25 Jul 2014 12:30 WIB
Ini Penyebab Kelangkaan Air Galon Sering Terulang Pasca Lebaran
Jakarta - Hingga kini Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tidak dimasukan dalam kategori barang penting yang dapat diprioritaskan distribusinya selama musim Libur dan Mudik Lebaran.

Pihak Kementerian Perhubungan masih melarang penggunaan truk dengan ukuran lebih dari 3 sumbu roda melintas di jalan raya utama selama musim Libur dan Mudik lebaran, tak terkecuali untuk angkutan AMDK. Hal ini berdampak buruk bagi distribusi dan pasokan AMDK di masyarakat.

Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baruno mengatakan dampak negatif terutama dirasakan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hingga Serang, Bandung dan sekitarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, harus ada kajian ulang dari pemerintah untuk memasukkan AMDK ini sebagai komponen barang penting yang harus diprioritaskan distribusinya di saat musim mudik Lebaran.

"Kita sudah mengajukan rekomendasi ke Kementerian Perdagangan, sudah disetujui. Tapi dari Kementerian Perhubungan belum dapat restu. Jadi kami tidak bisa melintas," kata Hendro kepada detikFinance, Jumat (25/7/2014).

Dengan aturan tersebut, Hendro mengatakan, bila dipaksakan untuk tetap melakukan pengiriman, distribusi air minum dalam kemasan galon hanya bisa dilakukan dengan truk kecil dua sumbu roda.

Dari segi ongkos operasional jelas hal ini sangat tidak efisien dan efektif. "Karena selain, kendaraan yang diperlukan menjadi lebih banyak, ketersediaan truk dua sumbu roda itu juga terbatas. Jadi pastinya distribusi tidak berjalan mulus," katanya.

Dari perhitungannya, untuk mengangkut air minum kemasan galon dengan volume yang sama. Diperlukan kendaraan truk dua sumbu dengan jumlah yang hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan truk 3 sumbu (lebih besar).

Untuk H-4 di Jabodetabek kebutuhan air kemasan mencapai 8,7 juta liter. Hanya diperlukan 477 truk tronton. Sementara jika dikonversi menggunakan truk dua sumbu, kendaraan yang diperlukan mejadi 952 truk ukuran kecil (di bawah 3 sumbu roda)

Sementara pada H-3 kebutuhan air minum kemaan di Jabodetabek yang harus didistibusikan mencapai 6,5 juta liter. Hanya diperlukan 357 truk tronton. Jika diganti dengan truk kecil, diperlukan 715 unit truk.

Sedangkan pada H-2, kebutuhan air minum yang harus didistribusikan mencapai 4,3 juta liter air kemasan. Untuk mengangkut air minum tersebut diperlukan hanya 238 truk tronton, sementara kalau diganti dengan truk kecil bisa mencapai 477 truk.

"Dari segi kepadatan, jelas lebih padat karena kendaraan yang dipakai lebih banyak. Jalanan juga lebih ramai. Dari biaya operasional kami juga lebih besar, karena kendaraan yang harus dioperasikan lebih banyak. Ini yang kami hadapi sekarang," katanya.

Untuk itu, dirinya berharap agar rekomendasi untuk dimasukkannya air minum dalam kemasan galon ke dalam komponen barang penting yang dapat diprioritaskan transportasinya saat musim mudik dan libur lebaran bisa segera terwujud.

"Karena, hingga saat ini, air minum dalam kemasan tidak dimasukkan dalam komponen barang penting dapat diprioritaskan pengangkutannya selama musim libur dan mudik lebaran. Kita harapkan di pemerintahan depan bisa dikabulkan," harap Hendro.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads