Soal Upah Buruh Murah, RI Kalah dari Bangladesh

Soal Upah Buruh Murah, RI Kalah dari Bangladesh

- detikFinance
Rabu, 30 Jul 2014 10:24 WIB
Soal Upah Buruh Murah, RI Kalah dari Bangladesh
Jakarta - Beberapa tahun terakhir aksi demo para buruh menuntut kenaikan upah marak terjadi. Kondisi ini direspons pemerintah yang menegaskan akan meninggalkan sistem upah murah di Indonesia.

Upah buruh murah tadinya memang salah satu daya tarik investasi. Investor pasti akan sangat senang bila menamakan modal di negara dengan upah murah. Namun sekarang sudah ada Bangladesh yang memiliki sistem upah yang sangat murah.

"Kita nggak bisa bergantung pada upah buruh murah. Kalah kita dengan Bangladesh, harga buruhnya sepertiga Indonesia," ujar Menteri Keuangan Chatib Basri kepada detikFinance, dikutip Rabu (30/7/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Chatib, harus ada peralihan pemanfaatan inovasi dan teknologi di sektor tenaga kerja di Indonesia. Sehingga apapun yang dihasilkan dari dalam negeri memiliki nilai tambah, baik dari sisi volume maupun nilai, sehingga akan berpengaruh pada upah buruh yang lebih tinggi.

"Pindahkan konsentrasinya kepada inovasi dan teknologi," sebutnya.

Industri dengan nilai tambah tinggi tak hanya memproduksi roket, pesawat sekelas Air Bus A380 atau menciptakan NASA versi Indonesia.

"Gimana kita bisa bersaing dengan garmen dari Bangladesh. Bangladesh itu murah, tapi desain dan fashion itu mungkin kita lebih baik," kata mantan Kepala BKPM ini.

Menurut Chatib, Indonesia memiliki batik, sehingga bisa dikembangkan pada produk yang bernilai tambah. Seiring dengan perkembangan kelas menengah, masyarakat sudah mampu untuk menghargai batik dengan nilai yang lebih tinggi, termasuk pasar ekspor.

"Sekarang kelas menengah itu ada yang sudah mau beli dengan harga yang lebih mahal untuk kualitas yang lebih bagus," imbuhnya.

Chatib menjelaskan untuk menciptakan industri yang lebih bernilai tambah, maka pemerintah tengah mengkaji penyediaan insentif pajak untuk perusahaan yang membangun research and development (R&D) di dalam negeri.

"Ini yang dibahas agak lama sekarang, bagaimana investor itu mau berinvestasi untuk pengembangan SDM kita," ujarnya.
Β 
Pemerintah juga menyediakan bea siswa untuk siapa saja yang ingin bersekolah ke luar negeri. Asalkan diterima di 200 universitas terbaik dunia dan kembali ke dalam negeri, akan diberikan bea siswa penuh dan biaya hidup.

"Kalau orang Indonesianya nggak cukup bagus, dia nggak akan bisa masuk dalam inovasi dan teknologi," tutupnya.

(mkl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads