Direktur Pengembangan PT Jakarta Toll Development selaku pemegang konsesi atas tol ini, Ngurah Wirawan menyebutkan, pada dasarnya Jakarta merupakan kota metropolitan yang masih kekurangan jaringan jalan.
Rasio jalan terhadap luas kota Jakarta baru mencapai 6,3%. Padahal menurut Ngurah, kota besar di dunia seperti Singapura mencapai lebih dari 15%, juga Tokyo yang di atas 18%. Bahkan kota-kota besar itu memiliki jaringan transportasi massal berbasis rel yang sangat baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ngurah, penambahan jaringan jalan di Jakarta perlu dilakukan, meski sudah ada 6 ruas jalan tol dalam kota Jakarta yang panjangnya mencapai 69,7 km. Alasannya keberadaan tol baru ini tidak akan terlalu signifikan menambah rasio jalan di Jakarta.
"Sebenarnya nggak akan terlalu signifikan. Mungkin kita bisa menambah 70 km, itu sekitar 1 persen," tambahnya.
Di sisi lain, lanjut Ngurah, pemerintah pusat maupun daerah tetap wajib membangun sistem transportasi massal terpadu berbasis rel, seperti mass rapid transit (MRT).
"Concern kita sebenarnya adalah Pemerintah Pusat dan Pemerintah DKI Jakarta juga membangun sistem transportasi massal berbasis rel," katanya.
Di tahun 2005, usulan mengenai pembangunan 6 ruas jalan tol awalnya untuk memperkuat jaringan jalan tol di kota Jakarta yang terhubung dengan jaringan tol yang sudah ada.
"Di atas juga kita bangun untuk Bus Rapid Transit, ke depan kita berharap, jalan tol di Indonesia tidak semata-mata untuk kendaraan pribadi, tapi pakai angkutan umum berbasis bus," katanya.
Jalan tol ini akan dibangun melayang (elevated) sehingga tidak terlalu memerlukan pembebasan lahan yang besar. Proyek tol ini memerlukan investasi hingga Rp 41,1 triliun, termasuk biaya pembebasan lahan sebesar Rp 5 triliun. Keseluruhan tol ini kan beroperasi di tahun 2022.
Tol ini akan dibangun 3 tahap yang total panjangnya mencapai 69,77 km antara lain:
- Tahap I (29,67 km) terdiri atas ruas Semanan-Sunter yang beroperasi 2018 dan Sunter-Pulo Gebang beroperasi 2019.
- Tahap II (22,25 km) terdiri atas ruas Duri Pulo-Kampung Melayu dan ruas Kemayoran-Kampung Melayu yang beroperasi 2021.
- Tahap III (17,86 km) terdiri atas ruas Ulujami, Tanah Abang dan ruas Pasar Minggu-Casablanca yang ditargetkan beroperasi 2022.










































