Soal Gula dan Garam, RI Masih Tergantung Asing

Soal Gula dan Garam, RI Masih Tergantung Asing

- detikFinance
Selasa, 05 Agu 2014 09:42 WIB
Soal Gula dan Garam, RI Masih Tergantung Asing
Jakarta - Gula dan garam yang dikonsumsi di Indonesia masih sangat bergantung pasokan dari luar negeri. Meski pemerintah sudah melakukan berbagai upaya, namun tetap saja impor belum bisa terelakkan.

Seperti dikutip detikFinance dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (5/8/2014), untuk garam diimpor sebanyak 1,2 juta ton selama enam bulan (Januari-Juni). Nilainya US$ 53,3 juta.

Garam impor kebanyakan datang dari Australia, yaitu 918.679 ton atau US$ 42,1 juta. Kemudian ada dari India 235.596 ton (US$ 9,8 juta), Selandia Baru 1.080 ton (US$ 422 ribu), Tiongkok 5.151 ton (US$ 404 ribu), Jerman 160 ton (US$ 227 ribu), dan negara-negara lainnya 859 ton (US$ 273 ribu).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara untuk gula, terbagi atas gula pasir dan gula tebu. Gula pasir diimpor sebanyak 38.713 ton atau US$ 21,1 juta dalam enam bulan tahun ini.

Asalnya adalah dari Thailand 26.115 ton (US$ 13 juta), Korea Selatan 4.185 ton (US$ 2,8 juta), Australia 3.360 ton (US$ 2,3 juta), Malaysia 3.410 ton (US$ 1,8 juta), Selandia baru 1.560 ton (US$ 1,05 juta), dan negara lainnya total 82 ton (US$ 70 ribu).

Untuk gula tebu, dalam enam bulan diimpor sebanyak 1,8 juta ton atau US$ 805 juta. Terbesar berasal dari Thailand yaitu 1 juta ton (US$ 449 juta).

Selanjutnya adalah Australia 419.076 ton (US$ 187 juta), Brasil 278.832 ton (US$ 132 juta), Afrika Selatan 82.560 ton (US$ 36,1 juta), dan Korea Selatan 5 ton (US$ 6.584).

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads