Demikian dikemukakan lembaga pemeringkat Fitch Ratings dalam siaran tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (6/8/2014).
"Menyambut semester II-2014, Fitch mempublikasikan laporan credit outlook yang memberikan pandangan menyeluruh dan mengidentifikasikan faktor makro utama yang akan menentukan tren credit rating dalam 12-24 bulan mendatang," sebut siaran itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejumlah negara berkembang menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Fitch menilai terdapat elemen struktural (bukan siklikal) dari perlambatan ekonomi di beberapa negara berkembang menandakan kebutuhan akan pembangunan infrastruktur dan perbaikan daya saing," tutur Fitch.
Selain itu, Fitch juga mengingatkan kondisi pendanaan yang mengetat. "Negara-negara yang mempunyai kebutuhan pendanaan eksternal yang besar atau bergantung pada arus modal portofolio akan lebih tereskspos pada perubahan pasar," sebutnya.
Sehubungan dengan pemilu di Indonesia, Fitch juga mengeluarkan laporan agenda kebijakan adalah kunci untuk Indonesia. Fitch juga mengomentari Joko Widodo, presiden terpilih periode 2014-2019, yang dianggap belum memiliki rekam jejak yang luas dalam skala nasional.
"Langkah berikutnya yaitu pemilihan anggota kabinet, penyusunan anggaran, dan kebijakan lainnya dalam beberapa bulan ke dapan akan memberikan indikasi penting bagaimana Jokowi akan menjalankan mandat politik," papar siaran tersebut.
(hds/dnl)











































