Bursa Saham AS 'Berdarah-darah'

Rusia-AS Perang Dingin (Lagi)?

Bursa Saham AS 'Berdarah-darah'

- detikFinance
Jumat, 08 Agu 2014 10:35 WIB
Bursa Saham AS Berdarah-darah
Jakarta - Kisruh politik yang terjadi di Rusia juga berdampak pada pasar global. Bursa Wall Street melemah sebagai imbas dari rentetan sanksi negara barat terhadap Rusia.

Moscow baru saja melarang impor pangan dari negara-negara barat, menyusul sanksi yang saling berbalas antara kedua belah pihak membuat investor khawatir krisis antara Rusia dan Ukraina akan terus berlanjut, bahkan bertambah parah dengan jatuhnya jet tempur Ukraina.

Indeks Dow Jones saja turun di bawah rata-rata pergerakan mereka selama 200 hari. Indeks S&P 500 saat ini hampir berada 4% di bawah rekor penutupannya bulan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena tak ada yang tahu kapan sanksi negara yang berkonflik ini berakhir, analis mengatakan, kelanjutan kisruh di Rusia akan terus berlanjut dan berimbas pada penjualan saham.

"Sebelum kejadian ini, investor AS selalu menduga peristiwa geopolitik seperti ini tak akan berlangsung lebih dari 24 jam," kata analyst dari Interactive Brokers Group di Greenwich Connecticut, Andrew Wilkinson dikutip dari BBC, Jumat (8/8/2014).

"Sekarang, perhatiannya lebih kepada pertumbuhan global sedang menurun," imbuhnya.

"Terkait kelanjutan krisis itu juga, investor cenderung lebih mudah menjual, daripada membeli saat sedang turun," tambahnya.

Saham asuransi kesehatan menunjukkan kinerja buruk, menurun setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat Aetna (AET.N) menjadi netral dan memangkas target pendapatan. Saham Aetna sendiri meluncur deras 4.0% menjadi US$ 75,22. Saham UnitedHealth Group turun 2,7% menjadi US$79,26 dan CIgna pun anjlok 3% menjadi US$ 88,75.

Tak hanya itu, imbas dari apa yang terjadi di kisruh ini, Dow Jones pun turun 0,46% menjadi 16.368.27, S&P 500 ditutup 10.67 poin atau 0,565 menjadi 1.909.57 dan Nasdaq COmposite kehilangan 20.09 poin atau 0,46 persen ke angka 4.334.97.

Twenty First Century Fox (FOXA.O melonjak 5,1% menjadi US$ 33,97 setelah perusahaan meraup pendapatan melebihi ekspektasi Wall Street.

(zul/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads