Rusia-AS Perang Dingin, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Rusia-AS Perang Dingin (Lagi)?

Rusia-AS Perang Dingin, Apa Dampaknya ke Indonesia?

- detikFinance
Jumat, 08 Agu 2014 14:25 WIB
Rusia-AS Perang Dingin, Apa Dampaknya ke Indonesia?
Jakarta -

Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia saat ini sedang bergejolak. Negara-negara di Eropa sudah memberi sanksi kepada Rusia. Apa dampaknya bagi Indonesia?

"Kepada ekspor barang Indonesia mestinya tidak ada masalah yang berarti," ungkap Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi saat berdiskusi dengan media di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais Jakarta, Jumat (8/08/2014).

Menurut Lutfi justru konflik yang terjadi antara AS dan Rusia pengaruhnya bisa meluas hingga berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tetapi ketika terjadi ketidakpastian ini akan tidak memperbaiki daripada lesunya pertumbuhan ekonomi dunia. Secara keseluruhan ekonomi dunia, pasti akan terjadi imbas yaitu tidak ada perbaikan dalam permintaan dan pertumbuhan dunia. Jadi saya sangat prihatin," tuturnya.

Sementara itu terkait kegiatan embargo produk makanan impor asal AS dan Uni Eropa yang dilakukan Rusia, Lutfi mengatakan Indonesia sama sekali tidak mengambil keuntungan. Pasalnya, dari beberapa jenis daftar makanan impor yang diembargo, hanya sedikit diproduksi di Indonesia.

"Kalau saya lihat yang mereka (Rusia) kerjakan adalah mengembargo daging sapi, barang hortikultura dan barang-barang pertanian lainnya dari AS. Kita tidak punya keunggulan komperatif itu. Kita tidak menjual hortikultura, sapi, mungkin ke dairy product yang mereka dapatkan seperti mentega dan berbasis animal oil mungkin kita bisa pasok itu dari nabati oil atau sawit. Tetapi kita lihat ke depan," papar Lutfi.

Ada Plus-Minusnya Bagi Indonesia

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi berpendapat krisis politik yang terjadi di Rusia bisa berdampak positif dan negatif bagi Indonesia. Krisis politik di Rusia terjadi karena perebutan wilayah Crimea di negara Ukraina.

"Presiden Putin telah melarang importasi bahan makanan dari AS dan Eropa Barat. Dampak pada kita mungkin tidak besar, tetapi bisa positif dan negatif," ungkap Bayu saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat.

Dampak positifnya bagi Indonesia menurut Bayu adalah harga gandum dunia akan bergerak turun. Pasalnya Rusia sebagai salah satu produsen utama gandum dunia tidak lagi fokus kepada pasar utama ekspor mereka seperti Eropa Barat. Rusia akan mencari pasar yang jauh lebih luas salah satunya adalah Indonesia.

"Dampak positifnya bisa produk yang diekspor dari Rusia akan mencari pasar lain termasuk Indonesia dan ada beberapa negara lain. Sehingga pasar gandum dunia akan berpengaruh dan harganya bisa turun," imbuhnya.

Dampak negatifnya terjadi pada komoditas gula. Brasil salah satu negara penghasil gula terbesar dunia sudah melakukan kontak dengan Rusia untuk memasok gula dalam jumlah besar ke negara itu. Sementara Indonesia yang masih membutuhkan gula impor justru akan mendapati harga gula impor dengan harga yang jauh lebih tinggi dari saat ini.

"Dampak negatifnya, Rusia akan mencari pasar lain untuk gula seperti Brasil. Indonesia juga selama ini masih mengimpor gula dari Amerika Latin dan jelas ini bisa berdampak pada Indonesia. Baru 2 hari tetapi harga gula di pasar sudah mulai bergerak," katanya.

(wij/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads