Contoh saja impor buah dari Thailand pada periode Juni 2012 mengalami kenaikan, dari US$ 10,95 juta menjadi US$ 35,07 juta di Juli 2012, dan mencapai US$ 40,55 juta di Agustus 2012. Apa sebabnya?
"Impor produk hortikultura paling besar dari Thailand. Orang kita suka dengan produk besar seperti Jambu Bangkok, Durian Bangkok, bahkan sampai Ayam Bangkok dan Perkutut Bangkok, kita senang produk itu," kata Deputi bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono saat berdiskusi dengan media di Hotel Swiss-Bel, Jalan Kartini Raya, Jakarta, Selasa (12/08/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nilai gizi kita tidak kalah bahkan harus diketahui produk impor itu ada zat lilin. Produk kita dari rasa, vitamin tidak kalah dari produk impor," imbuhnya.
Sementara itu, Adi mengatakan setidaknya ada 7 faktor yang harus segera dibenahi pemerintah agar produk hortikultura dan pertanian Indonesia tidak kalah dibandingkan produk impor. Ke 7 faktor itu antara lain penambahan lahan, peningkatan sumber daya manusia khususnya kepada petani, akses permodalan yang mudah, peningkatan penggunaan teknologi, masalah kelembagaan, perbaikan sarana produksi, dan strategi pemasaran.
"Kebutuhan lahan sangat dominan kemudian pertanian kita juga masih dikatakan masih menggunakan sistem yang tradisional, lalu wilayah pemasaran kita masih terbatas dan kalah melakukan pengemasan," cetusnya.
(wij/dnl)











































