"Secara total sekarang ini sudah habis Rp 3,5 triliun dari E1 sampai Plumpang. Terkontrak itu E1, E2A, NS link dan NS direct. Sekarang ini 60% progres fisik," kata Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Nurhadi saat ditemui detikFinance di Kantor Walikota, Jakarta Utara, Selasa sore (12/08/2014).
Menurut Bambang, proyek pembangunan jalan tol akses Tanjung Priok ini mendapatkan dana pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) senilai Rp 4 triliun. Dari nilai investasi Rp 4 triliun itu, dana yang sudah digunakan sebanyak Rp 3,5 triliun. Pembangunan jalan tol sepanjang 12 km ini diperkirakan akan terselesaikan secara keseluruhan pada 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menjelaskan tol akses Tanjung Priok terbagi menjadi 5 seksi yang membentang dari E1 hingga NS Direct. Seksi E1 Rorotan-Cilincing (3,4 Km), E-2 Cilincing-Jampea (2,74 Km), E-2A Cilincing-Simpang Jampea (1,92 Km), NS Yos Sudarso-Simpang Jampea (2,24 Km), dan NS Direct (1,1 Km).
"E1 sudah 100% dioperasikan, E2 65%, E2A 60%, NS link 87% dan NS direct baru 30%," katanya.
Masalah utama proyek ini adalah persoalan pembebasan lahan terutama di wilayah Koja dan Kalibaru, Jakarta Utara.
"Masalah ini sudah terjadi sejak pembebasan tanah, di tengah jalan ada yang komplain Rp 35 juta, itu tahun 2012. Sudah hampir 2 tahun baru selesai sekarang," jelasnya.
(wij/hen)











































