Defisit APBN 2004 Rp 27,8 T

Defisit APBN 2004 Rp 27,8 T

- detikFinance
Senin, 03 Jan 2005 12:03 WIB
Jakarta - Defisit anggaran dalam APBN 2004 diperkirakan mencapai Rp 27,8 triliun atau sekitar 1,4 persen dari PDB. Angka itu berarti sedikit lebih tinggi dari perkiraan semula yakni Rp 26,3 triliun atau 1,3 persen dari PDB. Hal ini disampaikan Menkeu Jusuf Anwar dalam jumpa pers di Gedung BEJ, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (3/1/2005).Menkeu menjelaskan, untuk menutup defisit anggaran diatas akan dibiayai dari dalam negeri sebesar Rp 42,9 triliun dengan pembiayaan luar negeri sebesar negatif Rp 15,1 triliun. Untuk pendapatan negara per 31 Desember diperkirakan mencapai Rp 407,8 triliun yang berarti Rp 4,1 triiliun lebih tinggi dari perkirakaan APBN-P 2004. Lebih tingginya dari realiasai ini disebabkan oleh peningkatan penerimaan negara bukan pajak yang realisasinya mencapai Rp 126,7 triliun atau 2,3 persen diatas sasaran yang terutama imbas positif dari kenaikan harga minyak mentah Indonesia.Penerimaan perpajakan mencapai Rp 280,8 triliun yang berarti meningkat 0,6 persen dari perkirakaan semula. Dari sisi belanja negara diperkirakan mencapai Rp 435,6 triliun yang berarti lebih tinggi sekitar Rp 5,6 triliun atau naik 1,3 persen dari perkiraan dalam APBN-p 2004. Kenaikan realisai belanja negara itu terutama disebabkan oleh peningkatan pengeluaran subsidi bahan bakar minyak sekitar 16 persen dari yang direncanakan akibat adanya lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional. Kinerja perekonomian Indonesia masih menunjukkan perkembangan yang membaik atau tetap terkendali. Hal in ditunjukkan dari perkiraan sementara beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan dapat mencapai sasarannya dalam APBN-P sebesar 4,8 persen. Rupiah sepanjang tahun 2004 diperkirakan tidak jauh dari sasaran dalam APBN-P 2004 sebesar rata-rata Rp 8.900 per dolar AS. Tingkat suku bunga SBI 3 bulan juga tidak jauh dari sasaran sebesar 7,5 persen. Harga minyak dan produksi Indonesia diperkirakan masing-masing mencapai rata-rata US$ 37,17 per barel dan 1,04 juta barel per hari. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads