"Semua ini bisa dilaksanakan secara terintegrasi, bahkan dapat menekan terjadinya alih fungsi lahan dan urbanisasi," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/8/2014)
Slamet mengatakan bahwa melalui Budidaya Ugadi, produktivitas sawah akan meningkat baik dari padi yang dihasilkan maupun tambahan tambahan pendapatan dari ikan/udang. Sehingga kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi dan penghasilan petani pun meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan kisah sukses sistem Ugadi ada di Desa Cepoko Sawit Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali. Lahan sawah yang semula tidak tergarap, melalui program Percontohan Budidaya Ugadi, menjadi produktif dan mampu meningkatkan penghasilan petani.
Slamet mengatakan produksi padi di sawah tanpa udang galah selama ini di Desa Cerpoko Sawit adalah 4 ton/hektar. Dengan budidaya ugadi, hasil panen padi yang dihasilkan meningkat menjadi 5,4 ton/hektar plus panen udang galah sebesar 1,6 ton/hektar/musim tanam sebesar Rp 75.000 yang dibudidayakan bersama padi tersebut.
"Ini bukti bahwa budidaya Ugadi mampu meningkatkan produktivitas lahan sawah dan meningkatkan pendapatan petani," katanya.
Capaian program ini pada tahun 2012 mencapai 156.193 Hektar, dan pada tahun 2013 adalah 124.057 Hektar, sedangkan target tahun 2014 seluas 250.000 Ha.
Model percontohan Ugadu telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di 6 lokasi di Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Cianjur, dan Garut. Sedangkan di Jawa Tengah di Kabupaten Sragen, dan Temanggung. Di Jawa Timur di Kabupaten Malang, dan Banten di Pandeglang.
Pada 2014 sedang dilaksanakan percontohan UGADI di Prov. Jawa Tengah di Boyolali, DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman, dan NTB di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur.
(wij/hen)











































