"Iya, masih aman," kata Menteri Keuangan Chatib Basri usai sidang bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (15/8/2014)
Chatib mengatakan, utang pemerintah Indonesia banyak yang berdenominasi dolar AS. Bergejolaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat nominal utang pemerintah selalu bergejolak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sampai dengan akhir tahun diharapkan rasio itu tidak melebihi 25%. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, Chatib menilai rasio tersebut masih dalam posisi aman.
"Kita percaya akan dijaga di akhir tahun di (rasio) 24-25% terhadap PDB," sebutnya.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, rasio utang pemerintah terhadap PDB sepanjang masa kepimpinannya terus menurun.
Dalam Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD, SBY mengatakan utang Indonesia saat ini berada dalam situasi yang aman. Pada 1998 lalu saat krisis moneter terjadi, rasio utang Indonesia terhadap PDB mencapai 85%, sekarang turun jadi 23%.
"Utang sering dianggap masyarakat sebagai stigma buruk. Pada 1998 lalu rasio utang terhadap PDB kita 85%, artinya utang kita hampir sama besarnya dengan penghasilan seluruh rakyat. Namnun dengan susah payah, bisa diturunkan menjadi 23%. Ini bukan capaian yang dianggap remeh," jelas SBY.
Pada kesempatan itu SBY juga menyatakan, rasio utang Indonesia ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju. Seperti Jepang yang rasio utangnya sekitar 227%, Amerika Serikat (AS) yang rasio utangnya 101,5%, dan Jerman 78,4%.
(mkl/dnl)










































