Misalnya Alo, seorang pedagang bubur yang banting setir sementara berjualan bendera. Pria asal Garut ini menuturkan kisahnya berjualan bendera merah putih. Usaha musimannya ini sudah ditekuni sejak tahun 2000-an.
"Biasanya saya jualan bubur di Condet," kata Alo kepada detikFinance di kawasan Tebet, Jakarta Timur, Jumat (15/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harganya ada yang Rp 25.000, Rp 50.000, ada yang Rp 250.000," tuturnya seraya memutar sebatang rokok di jarinya.
Pria yang dikarunia dua orang anak ini bahagia menyambut bulan Agustus. Artinya Alo bisa meraup keuntungan yang lebih besar dibanding hari-hari biasanya berjualan bubur di kawasan Condet.
Sejak tanggal 1 hingga tanggal 10 Agustus, belum banyak orang yang membeli benderanya. Namun mulai 11 Agustus lalu, dagangannya laris manis. Satu karung bendera dengan harga Rp 4 juta, ia bawa dari Leles, Garut, Jawa Barat hanya tersisa belasan, itupun berukuran kecil-kecil.
"Pernah dapat Rp 1,5 juta sehari. Rp 700.000 juga pernah. Ramainya mulai tanggal 11 kemarin. Lebih untung dibanding jualan bubur. Kalau dari ini (bendera) saya bisa digaji Rp 500 ribu bersih, kalau bubur paling hanya Rp 100 ribu (per hari)," ujarnya dengan logat sunda yang khas.
Sehingga Alo rela meninggalkan usaha sehari-harinya untuk berjualan bendera merah putih. "Saya jualan dari jam 6 pagi sampai maghrib," katanya.
Sementara itu, pedagang bendera lainnya bernama Surono, mengatakan berjualan bendera bukan karena faktor ingin meraup keuntungan yang besar. Ia mengaku ingin berkontribusi memeriahkan peringatan hari kemerdekaan. Sehari-harinya, pria delapan orang anak ini berjualan buah di Pasar Tanah Abang.
"Saya tinggalin dulu (buah), kalau untung jauh lebih besar buah. Saya jualan ini (bendera) tahunan karena cinta dan senang," ujarnya.
(zul/hen)











































