Ini Solusi Kemandirian Pangan Versi Bupati Bantaeng

Ini Solusi Kemandirian Pangan Versi Bupati Bantaeng

- detikFinance
Jumat, 22 Agu 2014 07:35 WIB
Ini Solusi Kemandirian Pangan Versi Bupati Bantaeng
Jakarta -

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam, termasuk pangan. Namun impor pangan Indonesia masih cukup tinggi.

Menurut Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng (Sulawesi Selatan), Indonesia seharusnya bisa menjadi tumpuan pangan dunia. "Tapi kenyataannya kita masih doyan impor. Kalau ada embargo, bisa krisis pangan kita," tegasnya kata Nurdin saat bertamu ke kantor redaksi detikcom.

Padahal, lanjut Nurdin, banyak daerah di Indonesia yang punya potensi. "Bantaeng saja bisa diperbaiki. Di negara kita apa yang nggak bisa? Amerika dan Jepang yang sekali panen saja bisa jadi pengekspor," paparnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sektor pertanian Indonesia, tambah Nurdin, tertinggal di mekanisasi. Dibutuhkan teknologi pertanian yang lebih maju agar bisa mendorong produktivitas.

Nurdin mencontohkan di sektor perikanan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan industri pengolahan ikan dalam skala masif.

"Kualitas dan produktivitas rendah, sehingga kita tertinggal. Di Peru, ada industrinya sehingga tangkap ikan bisa langsung diolah," katanya.

Bantaeng sendiri berhasil membangun industri pengolahan ikan. "Kapasitasnya 40 ton per hari. Kami olah, keluar tinggal daging. Sudah terpisah dengan tulang. Kami ekspor ke Jepang," jelas Nurdin.

Selain itu, demikian Nurdin, perlu dikembangkan kekhususan di setiap daerah. "Ada kabupaten kedelai, jagung, dan sebagainya. Kerjanya begitu saja, harus fokus," ujarnya.

Saat ini, Banteng mengalami surplus jagung karena benih unggul Hibrida Bantaeng HB-21. Dengan bibit ini, produksi jagung bisa mencapai 10 ton per hektar, dapat beradaptasi di lahan kering, umur panen 110-115 hari, dan sebagainya.

Oleh karena itu, Nurdin menilai pembangunan sektor pertanian membutuhkan sinergi. Saat ini sinergi lah yang masih kurang.

"Kita punya uang, tapi tidak ada tujuan. Buatlah tiap tahun apa yang bisa diselesaikan. Misalnya tidak lagi impor benih, punya target tahun sekian tidak impor benih lagi," paparnya.

Bantaeng pun saat ini menjadi pusat benih yang unggul. "Kami tidak mungkin swasembada karena dibanding Sidrap yang punya sawah 180 ribu hektar, kami hanya 7 ribu hektar. Makanya kami jadikan Bantaeng sebagai pusat benih, punya nilai tambah," kata Nurdin.

(hds/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads