PT Pertamina (Persero) sejak awal menentang rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Jika proyek ini jadi, ada pihak-pihak lain yang kena dampak.
Alasan Pertamina karena dapat menghentikan produksi anjungan minyak dan gas bumi (migas) PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Anjungan Migas PHE ONWJ merupakan salah satu objek vital nasional.
"PHE ONWJ ini obyek vital nasional, ada dasar hukumnya yakni Keppres nomor 63 Tahun 2004 dan Kepmen ESDM nomor 3407 K/07/MEM/2012," ungkap Manager Media Pertamina Adiatma Sardjito kepada detikFinance, Jumat (22/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentunya jika Pelabuhan Cilamaya jadi dibangun, maka akan membuat produksi PHE ONWJ berhenti dalam waktu yang belum bisa ditentukan, pasalnya keberadaan pelabuhan tersebut sangat riskan bagi kegiatan operasional PHE ONWJ," ungkapnya.
Adiatma mengungkapkan banyak pihak yang akan mengalami kerugian besar jika produksi PHE ONWJ terpaksa dihentikan,
Pertama, adalah negara karena produksi minyak nasional turun 43.000 barel per hari.
Kedua, adalah PT PLN, karena produksi gas dari ONWJ masuk ke pembangkit PLTG Muarakarang dan Tanjung Priok sekitar 140 billion British thermal unit per day (bbtud).
Ketiga, adalah Pupuk Kujang yang mendapatkan pasokan gas kurang lebih 60 bbtud dari PHE ONWJ.
Keempat, pasokan gas ke kilang Balongan sekitar 18 bbtud.
Kelima, pasokan gas ke Krakatau Steel dan SPBG (untuk bahan bakar gas) kurang lebih 4 bbtud.
"Tentunya jika dirupiahkan, kerugian yang didapat para pihak selain ONWJ akan sangat besar sekali," tutupnya.
Sebelumnya, General Manager PHE ONWJ Jonly Sinulingga mengungkapkan, jika Pelabuhan Cilamaya dibangun maka akan membuat PHE ONWJ harus pemindahan anjungan minyak dan pipa migas dan mengharuskan operasi ONWJ mati total dalam waktu yang cukup lama.
"Produksi minyak 43.000 barel per hari dan produksi gas bumi 177 juta kaki kubik per hari akan terhenti dalam waktu yang cukup lama," ujarnya.
Akibatnya, negara akan kehilangan cadangan minyak yang cukup besar. Produksi minyak ONWJ sampai 2023 bisa mencapai 50.000 barel per hari, bahkan hingga 2037 produksi masih bisa 20.000 barel per hari.
"Hingga 2014 ini cadangan terbukti di ONWJ mencapai 80 juta barel, masih ada cadangan yang harus dibuktikan yakni P2 mencapai 80 juta barel lagi, P3 sebanyak 130 juta barel minyak lagi, dan cadangan kontinjensi sebanyak 600 juta barel lebih," ungkapnya.
Jika ditotal, nilai produksi ONWJ mencapai 900 juta barel lebih. Dengan harga minyak rata-rata US$ 100 per barel dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 10.000, maka nilainya mencapai lebih dari Rp 900 triliun.
Jonly Sinulingga mengatakan kontribusi Pertamina terhadap negara sudah terbukti, pada 2010 Pertamina memberikan sumbangan pemasukan negara mencapai Rp 7,3 triliun ke negara, 2011 meningkat lagi menjadi Rp 12 triliun ke negara, 2012 mencapai Rp 11,8 triliun, 2013 mencapai Rp 13 triliun, dan pada tahun ini ditarget Rp 11,6 triliun.
"Sementara Pelabuhan Cilamaya belum memberikan bukti penerimaan yang besar bagi negara. Kalau Cilamaya dibangun ini semua hilang, itu pasti," terangnya.
(rrd/hen)










































