Selain AS dan Israel, Alat Pendeteksi Otak Canggih Ini Bisa Dibuat di Tangerang

- detikFinance
Senin, 25 Agu 2014 14:33 WIB
Bogor - Kemampuan anak bangsa dalam membuat sebuah produk berteknologi tinggi kian berkembang. Kali ini, sebuah produk kedokteran untuk menganalisa fungsi otak, yang dibuat di Center for Tomography Research Laboratory (Ctech Labs), Tangerang, Banten.

Alat yang dinamakan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) ini selain bisa menganalisa fungsi otak juga bisa mendeteksi gangguan pada otak, baik itu tumor atau gangguan lainnya.

"Alat ini bisa mendeteksi adanya tumor di otak sedini mungkin," kata Center of Medical Physics and Cancer Research C, Rizki Edmi Edison ditemui detikFinance di Pameran ASEAN Science and Technology Week di Botani Square, Bogor, Jawa Barat, Senin (25/8/2014).

Edmi mengatakan, alat ini bisa memeriksa gangguan otak sedini mungkin, tanpa radiasi dan bisa dilakukan di mana saja. Lain halnya dengan alat kedokteran lain seperti CT Scan yang harus dilakukan di rumah sakit dengan ruang terbuka tanpa radiasi.

"Biaya periksa dengan ini hanya Rp 100 ribu. Kalau dengan CT Scan bisa sampai Rp 1,5 juta," katanya.

Bentuk dari alat ini hanyalah sebuah kerangka helm yang dilubangi seluruh permukaannya lalu tersambung dengan kabel yang disambungkan dengan perangkat komputer dilengkapi perangkat lunak tertentu. Komputernya berbentuk seperti CPU biasa namun bedanya hampir semua permukaannya dipenuhi lubang kabel yang tersambung tadi.

Produk ini sudah diluncurkan sejak tahun 2012 oleh ilmuwan bernama Warsito. Edmi mengatakan, hingga kini pelanggan yang menggunakan alat ini sudah mencapai ratusan ribu dari seluruh Indonesia.

"Ada 180 ribu di seluruh Indonesia," katanya.

Sayangnya, alat ini belum diproduksi secara massal. Sehingga jika ada yang ingin memeriksa otak harus datang ke Alam Sutera, Tangerang.

"Di Indonesia hanya ada 1, ini saja. Di dunia yang mengembangkan ECVT hanya Amerika dan Israel," tambahnya.

Ia mengharapkan, alat ini nantinya bisa digunakan di Puskesmas-puskesmas agar dokter bisa mendeteksi gejala atau kemungkian tumor sedini mungkin. Pasalnya, menurut pengalaman Edmi yang juga seorang dokter bedah syaraf ini, jarang yang sering mengeluhkan sakit kepala tak jarang salah didagnosa oleh dokter.

(zul/hen)