Hal tersebut dikemukaka oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati dalam diskusi di kantor Indef, Jakarta, Rabu (27/8/2014).
Menurut Enny, APBN tidak berfungsi optimal sebagai motor penggerak ekonomi. Ini terlihat dari belanja negara yang terus meningkat tetapi pertumbuhan ekonomi justru melambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nilai APBN meningkat hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi cenderung turun. Ini akibat postur anggaran yang tidak ideal," tutur Enny.
Enny menilai, sebagian besar belanja negara habis untuk hal-hal yang tidak produktif. Contohnya adalah subsidi bahan bakar minyak (BBM), belanja pegawai, atau pembayaran utang.
"Total belanja meningkat, tapi sayangnya anggaran sebesar itu habis untuk belanja tidak produktif seperti untuk gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil), subsidi BBM, dan pembayaran bunga utang. Itu saja sudah menghabiskan 60% dari total belanja pemerintah. Akhirnya belanja untuk pos-pos produktif tidak maksimal," paparnya.
Kecenderungan ini, lanjut Enny, masih berlanjut dalam Rancangan APBN 2015. Pemerintah masih memberikan anggaran yang besar untuk tiga pos tersebut, termasuk kenaikan gaji PNS minimal 6%.
"Seharusnya pemerintah konsisten dengan kebijakan moratorium penerimaan pegawai dan menunda rencana kenaikan gaji PNS jika tanpa perbaikan kinerja," tuturnya.
(hds/hds)











































