PNS Habiskan 20% Anggaran Negara Tapi Kontribusinya Kecil

PNS Habiskan 20% Anggaran Negara Tapi Kontribusinya Kecil

- detikFinance
Rabu, 27 Agu 2014 13:05 WIB
PNS Habiskan 20% Anggaran Negara Tapi Kontribusinya Kecil
Jakarta - Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Indonesia menghabiskan sekitar 20% anggaran belanja negara tiap tahun. Sayangnya kualitas dan keahlian para PNS ini belum memadai sehingga kontribusinya ke negara tidak besar.

"Belanja pegawai 20%, mengambil porsi cukup banyak dalam anggaran pemerintah. Sementara itu kualitas jadi masalah," kata Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhil Hasan dalam diskusi di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (27/8/2014).

Padahal, kata dia, kualitas pelayanan yang diberikan PNS kepada masyarakat masih jauh dari memuaskan. Kondisi ini terutama disebebkan pada kualifikasi kualitas sebagian besar PNS yang masih kurang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Persoalan di kita itu strukturnya. Kebanyakan di kita setengah PNS-nya tidak memiliki keahlian. Akibatnya, kualitas pelayanan dan birokrasinya sangat buruk," tuturnya.

Selain itu, dari struktur dan distribusi PNS Indonesia juga bermasalah. Ia beranggapan, distribusi PNS tidak merata. Contohnya, kata dia, di Pulau Jawa misalnya kelebihan banyak PNS, sedangkan di Indonesia bagian timur justru malah kekurangan.

"Sisi strukturnya, sisi distribusi, itu masih sangat kurang. Seperti di kita PNS kebanyakan tenaga administrasi, itu pun di pusat. Padahal profesi khusus seperti guru dan dokter dibutuhkan banyak di daerah, harus terdistribusi merata di seluruh Indonesia," tegasnya.

Sistem kepegawaian nasional pun dianggap masih bermasalah. Jika dibandngkan dengan Filipina, mereka memperbolehkan PNS untuk pindah ke swasta dan nanti bisa masuk lagi jadi PNS. Sedangkan di Indonesia, sekali jadi PNS seterusnya akan jadi PNS.

"Philipina orang bisa berpindah-pindah. Kualifikasi ikuti tes dan mereka bisa ke swasta dan nanti masuk PNS lagi. Kita engga bisa berhenti. Masalah kualitas, distribusi, struktur, dan perbaikan reformasi sistem harus dilakukan," tutupnya.

(ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads