Sekretaris Jenderal Kementerian PU Agoes Widjanarko menganggap itu kenyataan yang kerap terjadi di lapangan. Namun dengan bantuan aparat keamanan masalah ancaman fisik bisa dihindari.
Agoes mengatakan, meski sering ada ancaman demikian, tim dari pembebasan lahan PU tetap bekerja hingga menemui titik temu, antara tim dengan warga yang menolak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agoes mengatakan, penolakan yang dilakukan warga tidak selalu murni dari warga. Melainkan ada oknum-oknum yang menggerakan massa untuk menolak lahan dibebaskan untuk sebuah proyek.
"Di mana saja pemebebasan tanah itu selalu tidak murni dari orang yang punya, yaitu spekulan yang koordinir," tambahnya.
Meski demikian, pembebasan lahan terbantu dengan campur tangan aparat dan dinas-dinas terkait di daerah. Meski sering mendapatkan ancaman pembunuhan, tim pembebasan lahan hingga kini tidak ada yang terluka karena diantisipasi dengan bantuan aparat keamanan.
"Sejauh ini tidak ada sampai TPT terlukai, akibat pembebasan lahan itu. Karena kita menggunakan aparat," tutupnya.
Sebelumnya, Richard Napitupulu, pejabat Direktorat Bina Teknik Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang kerap turun ke lapangan mengisahkan cerita menegangkan, saat dia bersama rekan-rekannya disandera ratusan orang di kawasan Medan-Binjai.
Kejadian berawal saat tim pembebasan lahan itu turun ke lapangan, untuk menentukan desain ruas tol Medan-Binjai sekitar lebih dari setahun lalu. Richard bersama rekan-rekannya berniat membuat trase, yang mengindari sebuah bangunan gereja dan kawasan pemukiman padat.
"Kita berusaha menghindari, yang mana sih. Itu nggak ba bi bu ada 4-5 orang datang ke kami. Disangkanya kami developer atau broker," kata Richard saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (20/8/2014).
(zul/hen)











































