"Kita memang saat ini harus mem-back up dengan genset. Kita lakukan efisiensi. Kapal Mina Jaya yang tadi kan kapasitas 150 ton. Di dermaga ketika merapat tidak lagi memakai listrik PLN. Ini memang dirasakan sekarang listrik belum stabil," kata Direktur Utama PT Perikanan Nusantara, βAbdussalam Konstituanto ketika berbincang di Pulau Bacan, Jumat (29/8/2014).
Untuk menghadapi kondisi tersebut, perseroan memanfaatkan listrik dari genset yang membutuhkan banyak BBM solar. Ia mengatakan bahwa dengan harga solar yang tinggi maka upaya untuk mengefisiensi produksi tentu akan terganggu. β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah itu kan tergantung juga bagaimana pemda mengembangkan masyarakat untuk menanam pohon (kaliandra) itu. Nanti bisa menghasilkan listrik," ucapnya.
Salam juga mengatakan bahwa Pulau Bacan menjadi lumbung ikan di Indonesia Timur. Namun tanpa penanganan yang baik, maka potensi itu justru malah kurang tergali.
"Saat ini kuncinya efisiensi, karena kalau nggak ya penyebab maju mundurnya bisnis perikanan di Indonesia ya itu," kata Salam.
Kapasitas pabrik es untuk tahap awal 20 ton per hari, untuk selanjutnya bisa dikembangkan hingga 50 ton per hari.
Investasi pabrik es Bacan mencapai Rp 3 miliar. Sedangkan untuk pabrik es di Sorong, Papua, PT Perikanan Nusantara menggelontorkan uang Rp 15 miliar termasuk untuk ice storage dan cold storage.
(dha/hen)











































