SBY: Moratorium Utang Jangan Jadi Potensi Masalah Baru
Rabu, 05 Jan 2005 16:48 WIB
Jakarta -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap moratorium utang yang ditawarkan sejumlah negara kreditur diberikan dalam kerangka yang tegas dan tidak menjadi potensi persoalan baru bagi negara di kemudian hari. "Bila debt moratorium bukan sebatas mengatasi bencana Tsunami, tapi juga memastikan berlanjutnya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan, tentu kita akan sambut," kata SBY usai meninjau kesiapan pelaksanaan Asian Leader Meeting for earth quake and Tsunami di JCC, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (5/1/2005).SBY mengaku saat ini sudah ada tiga negara yang berinisiatif menawarkan moratorium utang yakni Jerman, Inggris dan Italia. Dalam pembicaraannya dengan PM Inggris Tony Blair selaku chairman G8 tadi malam, SBY mengaku, Blair berjanji akan mengusahakan moratorium utang bagi Indonesia dalam pertemuan kelompok negara-negara maju itu. Presiden menjelaskan upaya rekonstruksi dan rehabilitasi akibat Tsunami di Aceh dan Sumut yang direncanakan berlangsung hingga 5 tahun ke depan membutuhkan pendanaan yang sangat besar. Pos baru tersebut jelas akan memberatkan APBN 2005 dan tahun-tahun selanjutnya. Padahal menurut SBY, meski ada keperluan baru yang sangat besar, pos-pos yang sudah ada yang bertujuan memulihkan kondisi ekonomi nasional tidak dapat begitu saja dialihkan. Selain itu di dalam APBN terdapat komponen pembayaran utang yang nilainya mencapai US$ 3 miliar. "Dalam keadaan financial seperti ini Indonesia membutuhkan kemudahan agar lebih leluasa dalam mengelola APBNnya," tegas SBY.Menurut SBY selain moratorium utang ada alternatif lain yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut seperti write off dan reschedulling. Presiden belum dapat memastikan alternatif apa yang tepat untuk Indonesia saat ini. "Mendapatkan reschedulling saja sudah merupakan peluang yang baik bagi Indonesia. Mudah-mudahan manivest yang ada segera menjadi langkah-langkah yang konkrit," demikian SBY.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































