"Sebenarnya dari ekspor maupun impor sama-sama turun. Tapi impor turun lebih dalam dibanding ekspor," ujar Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), kala jumpa pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (1/9/2014).
Pada Juli 2014, nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 14,18 miliar. Turun 6,03% (year-on-year/yoy) dan 7,99% (month-to-month/mtm).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini merupakan dampak dari libur lebaran yang membuat banyak pegawai yang libur dan aktivitas pabrik banyak tutup. Tentu mempengaruhi aktivitas ekspor," kata Suryamin.
Akumulasi ekspor Januari-Juli 2014 adalah US$ 103 miliar, turun 2,97% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara akumulasi ekspor non migas adalah US$ 84,77 miliar, turun 3,17%.
Ekspor non migas Januari-Juli 2014 masih didominasi oleh bahan bakar mineral (khususnya batu bara) sebesar US$ 12,88 miliar. Kemudian disusul lemak dan minyak hewan/nabati (khususnya minyak sawit mentah/CPO) sebesar US$ 12,18 miliar.
Pangsa pasar ekspor non migas Januari-Juli 2014 juga masih didominasi Tiongkok, yang mencapai US$ 10,16 miliar. Kemudian disusul Amerika Serikat (AS) US$ 9,20 miliar, Jepang US$ 8,22 miliar, ASEAN US$ 16,74 miliar, dan Uni Eropa US$ 9,73 miliar.
Sedangkan impor pada Juli tercatat US$ 14,05 miliar. Turun 19,31% secara yoy dan 10,47% secara mtm.
Impor migas Juli adalah US$ 4,16 miliar, naik 22,46% dibandingkan Juni. Sementara impor non migas turun 19,55% menjadi US$ 9,90 miliar.
Akumulasi impor Januari-Juli 2014 adalah US$ 104,01 miliar atau turun 6,99%. Impor non migas tercatat US$ 78,06 miliar, turun 8,79%.
Impor non migas Januari-Juli 2014 terbesar adalah untuk mesin dan peralatan mekanik US$ 14,95 miliar serta mesin dan perlatan listrik US$ 10,09 miliar.
Pangsa pasar impor non migas terbesar masih ditempati Tiongkok dengan US$ 17,30 miliar. Lalu disusul Jepang US$ 9,99 miliar, Singapura US$ 6,03 miliar, ASEAN US$ 17,5 miliar, dan Uni Eropa US$ 7,36 miliar.
(hds/hen)











































