PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus mengupayakan peningkatan pelayanan kepada para penumpang. Namun, peningkatan pelayanan tersebut harus diimbangi dengan pendapatan PT KAI yang disumbang dari harga tiket.
Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan mengatakan jika harga tiket kereta masih jauh di bawah rata-rata, maka fasilitas atau pelayanan pun akan sebanding.
"Ada pertanyaan, kereta api kita bisa kayak Jepang nggak? Jawabannya nggak untuk sekarang karena bayar karcisnya nggak seperti di Jepang," katanya saat Acara Refleksi MP3EI di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (3/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Sumut, Kuala Namu, itu fasilitas sama dengan Jepang dan Kuala Lumpur, tapi harganya Rp 60.000, kalau KRL Jabodetabek mau kayak gitu nggak bisa karena bayar cuma Rp 5.000. Naik pakai AC, naik masih hidup, turun selamat, itu saja sudah beres. Kalau mau mewah nggak bisa," ucap Jonan.
Bagi Jonan, yang paling penting adalah pembangunan kereta api duoble track atau jalur ganda untuk bisa meningkatkan kapasitas angkut penumpang agar lebih efisien.
"Yang lebih penting Silognas (sistem logistik nasional). Jadi pemanfaatan lintas selatan kalau bisa jadi 2016, manfaat lintas selatan makin besar, kami membantu Kemenhub agar kereta api makin efisien dan juga angkutan makin besar," tandasnya.
(drk/hen)











































