Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino menilai keberadaan Pelabuhan Cilamaya tidak berdampak signifikan pada operasional angkutan laut Indonesia. Justru menambah beban perhubungan laut nasional.
"Tujuannya baik mungkin untuk pecah volume (di Tanjung Priok), tapi konsekuensinya ini malah jadi kecil-kecil (kapasitasnya). Kapal besar justru tidak bisa masuk," tutur Lino di JCC, Jakarta, Rabu (3/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebabnya karena tidak ada pelabuhan yang cukup daya tampungnya di Indonesia, sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal ukuran besar yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Sehingga Singapura yang selalu diuntungkan dengan fakta seperti ini.
"Jadi mereka ke Singapura dahulu baru ke Indonesia dengan kapal yang lebih kecil. Mau sampai kapan?" kata Lino.
Menurutnya, justru sebenarnya pemerintah harus fokus mengoptimalkan infrasatruktur yang sudah ada bukan malah menambah infrastruktur baru yang sama dengan lokasi yang berdekatan.
"Kalau pemerintah fokus di satu pelabuhan saja di satu lokasi itu malah lebih bagus," katanya.
Sikap RJ Lino ini cukup beralasan karena saat ini Pelindo II sedang menyiapkan pelabuhan baru Tanjung Priok atau New Tanjung Priok.
Saat ini pengerjaan proyek New Tanjung Priok tahap I Container Terminal 1 telah mencapai 60%. Sebanyak 6.860 piling telah terpasang dari total 9.185 yang direncanakan.
Container terminal I New Tanjung Priok ini diharapkan akan siap dioperasikan pada akhir 2014 dengan panjang dermaga 400 meter. Sementara keseluruhan container terminal I sepanjang 800 meter akan beroperasi penuh pada pertengahan kuartal III-2015 dengan kapasitas daya tampung sebesar 1,5 juta TEUs.
(hen/hen)











































